Tampilkan postingan dengan label thaharah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label thaharah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Desember 2014

Pentingnya Peningkatan Perilaku Pengelolaan Sampah

Pentingnya Peningkatan Perilaku Pengelolaan Sampah Rumah Tanga 
oleh: Ragil Moendjahid
Bekasi, 25 Desember 2014

PENDAHULUAN
 Sampah merupakan masalah krusial yang dihadapi setiap negara di dunia, demikian juga Indonesia. Menurut hasil penelitian untuk estimasi sampai tahun 2025, Indonesia merupakan Negara Asia– selain Filipina– yang menghadapi permasalahan sampah terbesar (World Bank, 1999). Permasalahan sampah tersebut telah berusaha ditangani oleh pemerintah Indonesia ditandai dengan keluarnya beberapa regulasi, diantarnya UU No 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga telah diundangkan sejak tanggal 15 Oktober 2012.
Namun demikian permasalahan sampah masih belum kunjung selesai, seperti kurang siapnya pemerintah memfasilitasi (Republika Online, 2012), dan kurangnya kepedulian masyarakat yang masih membuang sampah ke kali (Hendro, 2014) dan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah masih minim (Info Publik, 2014). Ini menunjukkan pengelolaan sampah belum dilaksanakan secara tuntas (Risdayanti, 2012).

Bekasi City Government Policy on Waste Handle

Kebijakan Pemerintah Kota Bekasi Dalam Menangani Sampah
oleh: Ragil Moendjahid
Jakarta, 31 Desember 2014

PENGANTAR
Sampah merupakan permasalahan yang pelik, namun harus ditangani. Pemerintah Bekasi dalam hal ini telah membuat Peraturan Daerah (Perda) Kota Bekasi nomor 15 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Sampah di Kota Bekasi. Perda (pasal 4) tersebut memiliki tujuan yang sangat mulia, pengelolaan sampah dimaksudkan “untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan, menjadikan sampah sebagai sumber daya, meningkatkan efisiensi penggunaan bahan baku, serta mengubah perilaku setiap orang.” Apalagi pasal selanjutnya, terutama poin (a) menyebutkan ‘menumbuh kembangkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah.’ Namun di lapangan, sampah masih banyak persoalan. Seperti kurangnya fasilitas yang disediakan pemerintah membuat sampah menumpuk (Republika Online, 2012), kebiasaan masyarakat membuang sampah ke kali menyebabkan banjir (Hendro, 2014). Dimana sejak di berlakukan perda tersebut belum banyak perubahan yang berarti. Menurut kepala Dinas Kebersihan Kota Bekasi, Junaedi tingkat kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah masih minim (Info Publik, 2014).

Rabu, 15 April 2009

THAHARAH 13

613 Kewajiban Mandi Selepas Haid Dan Nifas Serta Permasalahan Istihadah

1. Haid- Masa haid itu sekurang-kurangnya sehari semalam, dan menurut biasanya ialah tujuh hari tujuh malarn. Apabila lebih dari 15 hari, maka itu bukanlah darah haid lagi, tetapi adalah darah istihadah (darah penyakit). Sekurang-kurangnya waktu suci antara dua haid itu 15 hari, dan tidak ada batas bagi lamanya waktu suci itu. Ada kalanya perempuan itu putus haid, yaitu tidak berhaid lagi, menurut pendapat sebagian ulama menyatakan apabila perempuan itu sudah berumur 60 tahun dan ada juga yang menyatakan sampai dengan umur 50 tahun. Apabila seorang perempuan berhenti haidnya, wajiblah mandi, sesuai dengan hadis:

"Dan Aisyah r.a bahwa Fatimah binti AN Hubaisy bertanya kepada Nabi SAW katanya: "Ya Rasulullah, aku ini perempuan yang istihadah (penyakit keluar darah terus) tak pemah bersih-bersih, apakah saya boleh meninggalkan sholat? Maka jawab Nabi SAW: "Tidak, karena sesungguhnya itu tidak lain dan darah penyakit, bukan darah haid, maka apabila telah datang darah haid, tinggalkan sholat, dan apabila telah pergi (sudah kering atau sudah cukup harinya haid) maka bersihkanlah darah itu dan kerjakan sholat." (Riwayat Muslim)

Rasulullah SAW bersabda artinya:

'Maka apabila datang haid, tinggalkanlah sholat, dan apabila bersih darah haid itu, mandilah dan sholatlah"

2. Nifas - Nifas adalah darah yang keluar dari kemaluan perempuan, mengiringi wiladah (setelah melahirkan anak). Lamanya nifas itu adakalanya sebentar saja (satu lahzah), dan biasanya 40 hari. Selama-lama nifas itu 60 hari 60 malam. Jika lebih dari 60 hari, itu adalah darah istihadah. Mengenai kaum perempuan bernifas lamanya 40 hari itu adalah sesuai dengan hadis Nabi SAW. Dan Ummi Salamah r.a. dia berkata:

"Adalah para wanita yang bemifas pada masa Rasulullah SAW itu, duduk/berhenti selama 40 hari dan 40 malam." (Riwayat Abu Daud, Tirmizi dan lain-lain)

Pada hadis lain, ada pula dinyatakan artinya: dari Anas r.a ia berkata:

"Adalah Rasulullah SAW membatasi waktu bagi perempuan perempuan yang nifas itu 40 hari, kecuali ia melihat suci sebelum itu"(Riwayat Ibnu Majah)

3. Istihadhah - Kalau lebih dari 40 hari, maka itu bukan nifas lagi tetapi adalah istihadah. Bila istihadah, maka tidak boleh ia meninggalkan sholat dan puasanya, sesuai dengan hadis Nabi SAW.
Dari Abdullah bin Amr, katanya: telah bersabda Rasulullah SAW:

"Orang-orang yang bernifas, harus menunggu 40 hari dan malam, maka jika ia telah melihat suci sebelum itu, maka ia istihadah, la wajib mandi dan wajib menegakkan sholat. ' (Riwayat Al-Hakim)

Mengenai orang yang istihadah, ia wajib menunaikan sholat. Satu kali berwuduk untuk satu kali sholat yang fardhu dan boleh untuk beberapa kali sholat sunat. Syaratnya pula sudah masuk waktu sholat barulah ia wuduk untuk sholat fardhu.

THAHARAH 12

612 Larangan Bagi Orang Yang Haid Dan Nifas

Bagi orang-orang yang sedang haid dan nifas, diharamkan baginya:

  1. Sholat fardhu dan sholat sunat, sujud tilawah dan sujud syukur.
    Larangan sholat ini adalah berdasarkan firman Allah Taala pada surah An-Nisa ayat 43, yang bermaksud:
    "Wahai orang yang benman, janganlah kamu kerjakan sholat, padahal kamu sedang rnabuk sehingga kamu tahu apa yang kamu ucapkan. Dan janganlah kamu kerjakan sholat, padahal kamu sedang junub, kecuali sudah mandi."
  2. Menyentuh, mengangkat, memegang Al Ouran.
  3. Membaca Al Quran walau satu ayat sekalipun. Rasulullah SAW bersabda maksudnya:
    "Orang yang junub dan perempuan yang haid, tidak boleh membaca sesuatu dari Al Ouran." (Riwayat At-Thabrani)
    Adalah diwajibkan bagi seorang wanita itu rnembaca wirid dan zikir yang menjadi amalannya sehari-hari dengan niat zikir bukannya niat membaca Al Qur'an.
  4. Diam di Masjid.
    Orang yang sedang haid dan nifas tidak bolet lewat dan duduk di masjid. Jika haid, ia dikuatirkan terjatuh pada kawasan masjid.

THAHARAH 11

611 Haid Nifas Dan Istihadhah

Haid:

Darah yang keluar dari faraj perempuan, ketika berumur sembilan lahun atau lebih dalam keadaan sehat dan secara kebiasaan pada waktu yang tertentu bukan karena sakit. Sekurang-kurangnya masa haid itu sehari semalam. Biasanya enam atau tujuh hari. Sebanyak banyaknya lima belas hari dengan malamnya.

Nifas:

Darah yang keluar mengiringi bayi yang dilahirkan. Darah yang keluar sebelum beranak tidak dinamakan nifas. Sekurang-kurangnya masa nifas itu satu lahzah, sebanyak-banyaknya enam puluh hari dan kebiasaannya empat puluh hari.

Istihadhah:

Darah yang keluar bukan pada masa haid dan nifas. la dikenali sebagaidarah penyakit.

Wiladah:

Salah satu sebab yang menyebabkan wajib mandi ialah wiladah (melahirkan anak), walau anak yang lahir itu tidak basah sekalipun.

THAHARAH 10

610 Sunat-sunat Mandi Hadas
  1. Menghadap kiblat
  2. Membaca Bismillah
  3. Mencuci dua tangan dan berwuduk (dengan niat berwuduk sunat untuk mandi),
  4. Menggosok dengan telapak tangan mana-mana tempat di seluruh anggota badan,
  5. Mulai cuci anggota sebelah kanan.
  6. Mencuci tiga kali.

PERINGATAN
Hendaklah berturut-turut (muallat) mencuci suatu anggota dengan anggota yang lain. Jangan sampai terjadi tenggang waktu yang lama di antara anggota itu. Muallat di sini ialah jangan sampai kering anggota yang dibasuh itu sebelum mencuci anggota yang lain.

THAHARAH 9

609 Rukun Mandi Hadas

  1. Niat - mula niat ketika terkena air pada setiap anggota tubuh
  2. Hilangkan segala najis pada tubuh terlebih dahulu sebelum mandi.
  3. Mengenakan dan meratakan air pada kulit, rambut dan bulu serta seluruh bagian badan atau kemaluan yang zahir ketika qada hajat. Tidak ada beda antara rambut dan bulu yang jarang dengan yang lebat, semuanya harus terkena disampaikan dan diratakan air pada luar dan dalamnya. Rambut yang bersanggul wajib dilepas supaya terkena air. Rambut yang bersimpul dengan sendiri, jika tidak sampai air ke dalamnya adalah dimaafkan. Bulu-bulu di dalam hidung tidak wajib dibasuh karena termasuk anggota dalam (batin) tetapi jika terkena najis wajib dibasuh karena masalah najis lebih berat daripada junub. Wajib meratakan air pada celah kuku, sekiranya ada daki dan kotoran lain hendaklah dibuang kemudian dicuci.

NIAT

Secara umumnya mandi hadas besar dapat diniatkan seperti berikut: "Sahaja aku mengangkat hadas besar karena Allah Taala."

Lain-lain Niat:

  1. Mandi junub: "Sahaja aku mengangkat hadas besar karena Allah Taala. "
  2. Mandi karena haid: "Sahaja aku mandi wajib suci dari haid karena Allah Taala. "
  3. Mandi karena nitas: "Sahaja aku mandi wajib suci dari nifas karena Allah Taala."

THAHARAH 8

608 Sebab-sebab Yang Mewajibkan Mandi
  1. Jimak atau bersetubuh - wajib mandi walaupun tidak keluar mani.
  2. Keluar mani baik itu banyak atau sedikit, terjaga atau tertidur, bernafsu atau tidak.
  3. Mati - orang yang hidup wajib memandikan mayat itu kecuali orang itu mati syahid.
  4. Keluar darah haid bagi perempuan yang sudah cukup umurnya (baligh).
  5. Keluar darah nifas yaitu darah yang keluar mengiringi persalinan.
  6. etika bersalin (wiladah) walaupun tidak keluar darah bersama anaknya (tidak ada nifas) diwajibkan mandi juga.

THAHARAH 7

607 Istinjak

Dalam bahasa asal ia berarti melepaskan diri dari sesuatu. Maksudnya ialah bercebok atau bersuci. Hukumnya wajib, apabila keluar sesuatu dari dua saluran qubul atau dubur seperti kencing atau tahi. Jika angin yang keluar, tidaklah wajib beristinjak. Alat untuk beristinjak adalah dengan menggunakan air atau batu atau benda yang keras tapi suci dan bukan dari benda yang dihormati atau benda yang cair seperti air mawar dan cuka. Cukuplah bersuci dengan air atau tiga butir batu. Yang afdhalnya beristinjak dengan batu dahulu kemudian diikuti dengan air.

Bersuci dengan batu atau sejenisnya hendaklah memenuhi beberapa syarat:
a. Najis yang keluar itu masih basah.
b. Najis itu tidak merebak atau meleleh dari tempat keluarnya.
c. Najis itu tidak terkena percikan najis lain pada tempat najis yang ada itu.

THAHARAH 6

606 HADAS KECIL

Yaitu sesuatu yang tidak dapat dikesan kehadirannya secara lahir tetapi dikira ada oleh syariat pada anggota-anggota wuduk. la mencegah sahnya suatu ibadah seperti sholat. (Untuk suci dari hadas kecil mestilah berwuduk dahulu).

Sebab-sebab hadas kecil:

  1. Keluar sesuatu dari qubul dan dubur baik itu yang keluar itu benda yang suci atau benda yang najis, kering atau basah, sedikit ataupun banyak, sengaja atau terpaksa kecuali mani yang keluar pada kali pertama.
  2. Bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang ajnabi
    (yaitu boleh berkawin). Tidak mengapa menyentuh anak-anak yang belum mengerti malu (mumaiyiz). Tidak batal wuduk jika bersentuhan dengan kuku, rambut atau gigi
  3. Menyentuh kemaluan manusia dengan perut jari dan tapak tangan.
  4. Hilang akal disebabkan tidur kecuali tidur yang tetap punggungnya, pitam, mabuk atau gila.

THAHARAH 5

605 Bersugi

http://kawansejati.ee.itb.ac.id/605-bersugi

Bersugi artinya menyuci atau membersihkan gigi dengan menggunakan alat seperti sikat gigi, kayu sugi, manggar kelapa dan sabut. Hukumnya sunat muakkad. Digalakkan bersugi ketika hendak membaca Al Quran, sewaktu hendak sholat, apabila berubah bau mulut, setelah bangun dari tidur, sebelum tidur, ketika mengambil air untuk sholat, sewaktu berzikir, sewaktu memasuki Ka'bah, hendak masuk rumah setelah berjalan, ketika hendak bersetubuh, ketika haus dan lapar, ketika hampir mati supaya mudah keluar roh, sewaktu musafirdan lain-lain lagi. Tidak disunatkan bersugi setelah tergelincir matahari sampai masuk matahari bagi orang yang berpuasa malahan makruh bersugi pada masa itu baik itu puasa fardhu atau puasa sunat.

Sunat bersugi dengan tangan kanan: mulai pada sebelah kanan mulut, digosokkan pada langit-langit mulut dengan perlahan-lahan, digosok alas gusi. Bersugi juga banyak fadhilatnya. Sholat dua rekaat dengan bersugi lebih afdhal daripada sholat sunat tujuh puluh rekaat tanpa bersugi. la menyucikan segala kekotoran di mulut, mendatangkan keredhaan Allah, mengurangkan bongkok dan sakit pinggang, menggandakan pahala dan mengingatkan dua kalimah syahadah ketika hampir mati.

THAHARAH 4

604 Benda-benda Najis Dan Pembagian Najis

Najis ada banyak..
Darah, nanah, danur, susu binatang yang tidak boleh dimakan, arak (tiap-tiap cairan yang memabukkan tidak termasuk yang beku atau keras), anjing, babi dan segala bangkai semuanya najis kecuali bangkai manusia, ikan dan belalang.

Najis terbagi menjadi tiga yaitu:
1. Najis Mukhaffafah:
Najis yang ringan yaitu air kencing anak lak -laki di bawah umur dua tahun yang belum makan makanan kecuali menghisap susu ibu saja. Cara menyucikannya cukup dengan dipercikkan air saja pada tempat kencing itu.
2. Najis Mughallazah:
Najis yang berat yaitu anjing, babi dan keturinan kedua-duanya. Jika seseorang terkena anggota binatang tersebut dalam keadaan basah wajib disucikan dengan disamak. Cara menyucikannya ialah dengan dicuci tujuh kali dengan air mutlak dan salah satunya hendaklah dengan air tanah.
3. Najis Mutawassitah:
Najis pertengahan yaitu selain najis mukhaffafah dan najis mughallazah. Cara menyucikannya jika ada ain, hendaklah dihilangkan ainnya itu dan segala sifatnya yaitu rasanya, baunya dan warnanya. Jika setelah dicuci didapati masih tidak hilang rasanya seperti kesat, hendaklah dicuci lagi hingga hilang rasa itu. Setelah itu jika tidak hilang juga, ia dimaafkan. Jika bau atau wama najis itu masih tidak hilang setelah dicuci dan digosok tiga kali, hukumnya adalah dimaafkan. Jika najis itu sudah tidak ada lagi ainnya dan tidak ada lagi sifatnya seperti air kencing yang sudah kering pada kain dan hilang sifatnya, cukuplah dengan dicucuri air pada tempat yang terkena najis itu (najis hukmi).
Arak apabila telah menjadi cuka dengan sendirinya maka hukumnya suci dengan syarat tidak dimasukkan benda lain di dalam tempat pemeramannya.

PERINGATAN

Cara:
1. Mencuci tiap-tiap yang terkena najis yang diiktirafkan oleh syariat ialah dengan cara dialirkan atau dijiruskan air yang suci (air mutlak) ke atas benda yang dicuci meskipun sekali saja. Jika tidak dibuat begitu, seperti dicelupkan benda yang kena najis itu ke dalam air yang sedikit seperti dalam basin atau periuk yang telah ada air di dalamnya walaupun air itu mutlak, hukumnya tidak suci walaupun beberapa kali celup sekalipun. Hal ini harus diambil perhatian karena banyak berlaku di rumah makan-rumah makan, orang mencuci daging dan ikan dengan dicelup-celupkan saja. Kecuali kalau dicelupkan ke dalam air yang lebih dari dua kolah.

2. Satu cara lagi ialah dengan mengubah najis aini menjadi najis hukmi (atau najis yang telah hilang bau, rasa dan warna). Kaedahnya adalah seperti berikut:

a. Buangkan sisa najis dahulu.
b. Lapkan kawasan najis.
c. Biarkan beberapa han sehingga ia berubah menjadi najis hukmi yaitu dengan cara ia kering sendiri, diletakkan di bawah kipas angin atau dijemur.
d. Kemudian baru lalukan air ke atasnya sekali atau dilap dengan kain basah.

THAHARAH 3

603 Najis Dan Cara Menyucikannya
  1. Setiap benda yang cair atau lembut yang keluar dari dubur atau qubul hukumnya najis kecuali mani baik itu mani manusia atau binatang. Ini tidak termasuk mani anjing dan babi atau keturunan dari keduanya.
  2. Bagi benda yang keras seperti biji, cacing tidaklah najis. Cuma apabila terkena najis harus dibersihkan. Sebagai contoh biji guli yang keluar dari dubur seorang anak-anak yang tertelannya, tidaklah najis setelah dicuci dapat disimpan. Berbeda dengan batu karang yang keluar dari orang berpenyakit kencing manis, ia adalah najis sebab batu itu terjadi dari air kencing, bukan ditelannya.
  3. Benda yang keluar dari lubang yang lain selain dubur atau qubul hukumnya suci kecuali muntah dan air liur basi yang keluar dari dalam tembuni makanan yang warnanya kuning dan berbau busuk. Kedua-duanya najis.
  4. Ain najis tidak boleh disucikan. Yang boleh disucikan ialah sesuatu yang terkena najis (mutannajis)

Thaharah 2

602 PEMBAGIAN AIR

Air terbagi kepada empat bagian:

1. Air yang suci dan dapat menyucikan benda yang lain (dapat digunakan untuk mengangkat najis dan hadas) dan tidak makruh digunakan. la disebut air mutlak. Air mutlak ialah air yang tidak bercampur dengan suatu benda yang dapat mengubah nama air itu. Umpamanya, air sumur atau air ledeng, kita tetap menyebutnya air saja dengan tidak perlu menyebut air sumur atau air ledeng karena air itu tidak terikat dengan perkataan sumur atau ledeng. orang terus paham itu adalah air.

Berbeda dengan air yang bercampur dengan kopi, air mawar, air kelapa dan lain-lain. Air itu telah berubah namanya jadi air kopi, air mawar, air kelapa dan sebagainya. Air kopi, air kelapa, air tebu dan lain-lain tidaklah termasuk dalam golongan air mutlak bahkan termasuk ke dalam golongan air yang suci pada dirinya tetapi tidak menyucikan benda lain.

2. Air yang suci pada dirinya dan menyucikan benda yang lain juga tetapi makruh digunakan pada badan. Maknanya karena ditakuti terkena penyakit sopak atau bertambah kuat sopaknya atau menjadi kekal sopaknya. la dikenal dengan nama air musyammas yaitu air yang terkena panas matahari di dalam tempat seperti besi, tembaga dan lain-lain. Air ini hanya makruh digunakan unruk membasuh badan, untuk masak makanan dan untuk minuman

3. Air yang suci pada dirinya tetapi tidak dapat menyucikan benda yang lain, ia dikenal sebagai air mustakmal yaitu air yang telah digunakan untuk mengangkat hadas yang pertama pada anggota wuduk yang wajib atau mandi wajib dan telah digunakan untuk membasuh najis. Air itu pada lahimya tidak berubah dan tidak bertambah beratnya. Air itu jika dikumpulkan sampai cukup dua kolah atau lebih akan menjadi air mutlak. Yang juga disebut air mustakmal adalah air yang berubah salah satu daripada tiga sifat yaitu bau, rasa atau warna dengan sebab bercampur dengan cairan atau serbuk yang suci seperti sirup, kopi dan susu serta tidak tampak di mata seperti yang bercampur dengan air mawar yang sudah hilang baunya. Jika terjadi pada suatu benda yang suci tetapi tidak berlaku perubahan sampai hilang nama air mutlak seperti bercampur dengan teh yang sedikit (tidak menguningkan air itu) atau bercampur dengan gula yang sedikit (tidak memaniskan air itu), maka air itu masih suci dan menyucikan yang lain. Air yang berubah karena bercampur dengan suatu benda yang tidak dapat dihindarkan seperti tanah atau lumut di tempat air yang mengalir dan berlekuk dianggap suci lagi menyucikan.

4. Air yang terkena najis yaitu air yang terjatuh najis ke dalamnya atau sesuatu yang terkena najis, jika air itu tidak sampai dua kolah baik berubah atau tidak ia disebut air mutannajis dan air ini tidak suci dan tidak dapat menyucikan yang lain. Tidak disebut air mutannajis jika terjatuh ke dalamnya najis yang dimaafkan seperti bangkai binatang yang tidak berdarah (jenis binatang yang tidak berdarah sendiri) seperti lalat, kumbang, lipas, kalajengking dan nyamuk. Tetapi jika bangkai-bangkai itu dicampakkan dengan sengaja ke dalam air itu, atau ia telah merubah sifat air itu maka tidak lagi dimaafkan. Tidak dihukumkan mutannajis juga jika air itu bercampur dengan najis yang halus lagi tidak dapat dilihat oleh mata yang sederhana walaupun ia najis mughallazah (najis berat).
Air yang banyak (dua kolah atau lebih) tidak menjadi mutannajis dengan sebab masuk ke dalamnya benda yang najis melainkan jika berubah sifatnya baik itu bau, rasa atau warnanya.

UKURAN AIR DUA KOLAH

Air dua kolah itu sebanyak kurang lebih:
a. 52 galen atau
b. 13 tin minyak tanah atau
c. 230 liter atau
d. penuh sebuah tangki empat persegi yang panjangnya 23 inci. lebarnya 23 inci dan dalamnya 23 inci (7 kaki padu), atau
e. penuh sebuah tangki bulat garis pusatnya 18 inci dan dalamnya 46 inci.

THAHARAH 1

THAHARAH 1


Penjelasan bersuci

  1. Menurut perkataan sehari-hari, bersuci artinya membersihkan diri atau benda-benda dari najis dan kotoran seperti air ludah, kotoran hidung dan tahi telinga.
  2. Arti bersuci menurut syariat ialah menghilangkan halangan untuk beribadah dikarenakan adanya hadas atau najis atau menghilangkan halangan untuk memakan suatu benda dengan sebab kenajisannya.
  3. Alat untuk bersuci itu ialah air, tanah dan batu. Namun airlah yang paling mudah untuk digunakan sebagai alat untuk bersuci.
  4. Hukum bersuci dari hadas dan najis adalah wajib mengikut ijmak ulama. Syarat bersuci dan hadas adalah dengan air dan sekiranya air tidak ada ataupun tidak dapat menggunakan air untuk bersuci maka hendaklah bertayammum.

AIR YANG SAH UNTUK BERSUCI

Air yang sah untuk bersuci hanyalah air mutlak termasuk:

  1. Air hujan,
  2. Air embun.
  3. Air laut.
  4. Air sungai.
  5. Air sumur.
  6. Air mata air.
  7. Air salju.

Air di atas tidak peduli sifat asalnya putih, hitam, kelabu, jernih, keruh masam, manis dan sebagainya, asalkan ia sumber asli yang keluar dari bumi atau turun dari langit.