Tampilkan postingan dengan label sampah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sampah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2016

SAMPAH RUMAH TANGGA-RAGIL MUNDJAHID

SAMPAH RUMAH TANGGA DAN PERMASALAHANNYA

OLEH: RAGIL MUNDJAHID
April 2016



Sampah menjadi masalah bagi setiap negara di dunia, demikian juga Indonesia. Menurut hasil penelitian Bank Dunia untuk estimasi sampai tahun 2025, Indonesia merupakan Negara Asia– selain Filipina– yang menghadapi permasalahan sampah terbesar (Bank Dunia, 1999). Hal ini juga didukung data survei Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dari tahun 2008 sampai 2012 yang menunjukkan adanya kenaikan berat sampah lebih dari 300% (KLH, 2008; KLH 2013; BUMN, 2013). Dari total sampah tersebut terbanyak dihasilkan dari wilayah perkotaan dan lebih dari 50% adalah sampah rumah tangga (KLH, 2008; BUMN, 2013). Sampah sebanyak itu menurut KLH hanya 23,4% sampah yang berhasil diangkut melalui sistem pengelolaan sampah resmi dari pemerintah. Sisanya tertangani oleh sistem tidak resmi, di antaranya, 1,1% diolah menjadi kompos, 52,1% dibakar, dan 23,4 % melalui cara ditimbun, dibuang di saluran pembuangan air, sungai, atau laut dan dibuang di tempat lain (Landon, 2013).

SAMPAH RUMAH TANGGA =R. Mundjahid

SAMPAH RUMAH TANGGA DAN PERMASALAHANNYA

OLEH: RAGIL MUNDJAHID
April 2016

Sampah menjadi masalah bagi setiap negara di dunia, demikian juga Indonesia. Menurut hasil penelitian Bank Dunia untuk estimasi sampai tahun 2025, Indonesia merupakan Negara Asia– selain Filipina– yang menghadapi permasalahan sampah terbesar (Bank Dunia, 1999). Hal ini juga didukung data survei Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dari tahun 2008 sampai 2012 yang menunjukkan adanya kenaikan berat sampah lebih dari 300% (KLH, 2008; KLH 2013; BUMN, 2013). Dari total sampah tersebut terbanyak dihasilkan dari wilayah perkotaan dan lebih dari 50% adalah sampah rumah tangga (KLH, 2008; BUMN, 2013). Sampah sebanyak itu menurut KLH hanya 23,4% sampah yang berhasil diangkut melalui sistem  pengelolaan sampah resmi dari pemerintah. Sisanya tertangani oleh sistem tidak resmi, di antaranya, 1,1% diolah menjadi kompos, 52,1% dibakar, dan  23,4 % melalui cara ditimbun, dibuang di saluran pembuangan air, sungai, atau laut dan dibuang di tempat lain (Landon, 2013).
Kondisi persampahan yang belum teratasi tersebut menunjukan perlunya sebuah usaha yang lebih baik yaitu langkah penanganan dari sumber sampah.  Hal yang dapat dilaksanakan di antaranya dengan pengelolaan sampah rumah tangga atau sampah domestik yang merupakan sumber sampah terbanyak (lebih dari 50%). Pengelolaan sampah domestik dapat dilakukan di antaranya dengan daur ulang. Daur ulang merupakan suatu tindakan yang memerlukan langkah pemisahan dan pengumpulan bahan dari limbah, dan selanjutnya pemanfatan atau menjadikan barang berharga (Davies, Foxall, & Pallister, 2002). Langkah ini dapat membantu mengurangi sampah, mengurangi biaya pengangkutan dan mengurangi resiko lingkungan. Pelaksanaan daur ulang dapat diawali dengan pemilahan sampah organik dan nonorganik. Sampah organik dapat dijadikan kompos sedangkan yang nonorganik dapat dipilah untuk dimanfaatkan, baik disumbangkan, dijual atau dijadikan produk lain (misalnya kerajinan tas atau dompet). Perilaku mendaur ulang sampah domestik telah banyak diterapkan sebagai langkah efektif dalam penanganan masalah lingkungan yang berkelanjutan (Barr, 2008).
Praktek daur ulang sampah domestik sudah dilakukan di banyak negara dalam rangka mengurangi sampah yang masuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah dan efisiensi biaya (Davis dan Morgan, 2008) serta untuk melindungi lingkungan (Thogersen, 1994). Indonesia pun telah mengeluarkan regulasi tentang daur ulang domestik dengan keluarnya UU No 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. UU ataupun PP sejalan dengan Bell et. al. (2001) di mana selain prasarana seperti teknologi, pemerintah juga menekankan adanya perubahan perilaku dengan berusaha memfasilitasi dan menumbuhkan kesadaran, serta partisipasi mengelola sampah. Namun, regulasi pemerintah tersebut belum membuahkan hasil bila dilihat dari perilaku daur ulang sampah domestik yang masih rendah, baik langkah pemilahan atau pemanfaatan. Hal tersebut tercermin dari hasil survey KLH, Badan Pusat Statistik (BPS) dan Riset Kesehatan Masyarakat 2013.
Menurut survey KLH 2012 rumah tangga yang melakukan daur ulang kurang dari 5% (KLH, 2012). Riset Kesehatan Masyarakat 2013 (BPPKKK, 2013) juga mendukung hal tersebut, dimana warga yang telah mendaur ulang dengan cara pengomposan masih minim (0.9%). Ini merupakan jumlah sangat kecil dari perilaku mendaur ulang yang telah dilakukan pada tingkat rumah tangga. Demikian juga hasil survey BPS (2012, 2013) memperkuat hal tersebut (table 1). Warga yang telah memanfaatkan sampah hanya sekitar 10%, baik dengan cara pengomposan maupun menjadikan sampah nonorganic menjadi barang berguna.
Tabel 1
Prosentase Perilaku rumah tangga berhubungan dengan daur ulang[1]

Perilaku terkait daur ulang
2012
2013
1
Memanfaatkan sampah nonorganik menjadi barang lain (misalnya plastik dibuat tas)
1,67%
1,78%
2
Membuat pupuk/mengompos
2,94 %
5,56%
3
Memilah untuk dimanfaatkan (dibuat kompos, pakan ternak, disumbangkan dll)
-
10,28%
4
Memilah terus dibuang
-
13,41%
5
Tidak memilah sampah

76,31%

Sumber: Survei perilaku masyarakat peduli lingkungan 2012 dan 2013 (BPS, 2012; BPS, 2013)
Tabel 1 menunjukkan prosentase warga yang melakukan pemilahan sampah rumah tangga yaitu sebesar 10,28% melakukan pemilahan untuk dimanfaatkan, 13,41% memilah langsung dibuang, 5,56% mengompos dan 1,78% memanfaatkan sampah nonorganik. Data tersebut memberi gambaran bahwa kebanyakan rumah tangga tidak melakukan pemilihan sampah (lebih 75%) yang merupakan tindakan paling awal untuk daur ulang. Sedangkan warga yang telah memilah pun lebih banyak yang tidak memanfaatkan daripada yang sudah memanfaatkan.
Survey BPS (2013) juga menginformasikan alasan warga tidak memilah sampah seperti yang ditunjukkan dalam gambar.1. Warga beralasan untuk tidak memilah karena malas, tidak tahu harus memilah, tidak ada fasilitas, tidak menguntungkan dan tidak ada peraturan.



Gambar 1. Prosentase alasan warga tidak melakukan pemilahan sampah domestik (BPS, 2013)

Alasan – alasan pada gambar 1 tersebut dapat dibagi menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang menjadikan orang tidak memilah adalah adanya rasa malas, tidak tahu bagai mana cara memilah sampah dan adanya anggapan bahwa memilah adalah tindakan yang tidak menguntungkan. Sedangkan faktor eksternal yang menjadi alasan adalah adanya pandangan bahwa pemilahan sampah belum ada aturannya dan belum tersedianya fasilitas. Terlihat bahwa peran faktor internal jauh lebih besar dari faktor eksternal (faktor internal = 84 % dan faktor ekternal = 16 %). Hal ini menunjukkan bahwa perilaku tidak memilah sampah lebih dipengaruhi oleh faktor yang bersifat internal.
Faktor internal seperti rasa malas dapat dimungkinkan karena adanya perasaan capek, atau dapat juga disebabkan karena tidak tahu manfaat yang didapat dari tindakan pemilahan sampah sehingga hal tersebut dianggap sebagai perilaku yang tidak menguntungkan. Survey BPS (2013) menunjukkan bahwa pengetahuan yang tinggi tentang pentingnya memilah sampah baik sampah makanan, plastik, kertas dan lainnya tidak dikuti dengan tindakan memilah sampah yang tinggi di masyarakat. Warga yang telah mengatahui tentang perlunya pemilahan sampah sesungguhnya relatif besar (43,10%), namun yang melakukan pemilahan sampah dimanfaatkan masih sedikit (10,28%) sedangkan yang memilah terus dibuang lebih besar (13,41%) (BPS, 2013).
 Melihat besarnya peran faktor internal pada perilaku tidak memilah (76,31%), sementara tingkat perilaku mendaur ulang yang kecil (kurang 5%), hal ini memotivasi peneliti untuk melakukan penelitian terkait dengan upaya meningkatkan perilaku daur ulang dalam sebuah kegiatan intervensi. Hasil survey BPS (2013) memeberikan informasi bahwa faktor yang mempengaruhi perilaku tidak memilah sampah adalah faktor internal maka peneliti ingin memfokuskan intervensi pada faktor internal tersebut namun juga tetap memperhatikan faktor eksternal.  
Faktor internal dan eksternal menurut McDonal (2014) memang harus dipertimbangkan dalam membuat kerangka kerja atau model perilaku daur ulang untuk memahami pengaruhnya sebelum melakukan intervensi. Faktor internal seperti sikap dan affect, sedangkan faktor eksternal seperti kebijakan yang mengatur tentang mendaur ulang dan fasilitas pendukung perilaku daur ulang akan berpengaruh terhadap perilaku daur ulang. Terkait hasil survey BPS (2013) di atas kita dapat melihat bahwa orang tidak memilah dengan alasan malas ada kemungkinan karena jijik atau karena memang tidak suka dengan mendaur ulang sehingga memiliki affect negatif. Alasan malas juga dimungkinkan dipengaruhi oleh ketidaktahuan hasil yang menguntungkan dari memilah (misalnya, sampah organik untuk pupuk dan plastik bungkus kopi untuk kerajinan tas). Adanya pemilahan juga akan lebih memudahkan pihak pengelola sampah menanganinya baik sampah organik, nonorgani maupun sampah yang mengandung bahan berbahaya dalam rangka menghindari pencemaran baik tanah maupun udara. Ketidaktahuan manfaat seperti itu dapat mengarahkan orang untuk bersikap negatif terhadap perilaku pemilahan sampah yang merupakan tindakan awal untuk mendaur ulang. Sedangkan alasan tidak ada fasilitas dan tidak ada peraturan dapat disebabkan tiadanya informasi terkait memilah sampah sehingga dapat yang mempengaruhi pengetahuan seseorang tentang bagaimana caranya, kapan dan dimana perilaku pemilahan dapat dilaksanakan. Terlihat bahwa alasan-alasan tersebut saling terkait, hal ini sesuai dengan pandangan McDonal (2014) yang menyatakan bahwa faktor internal maupun ekternal saling terkait mempengaruhi perilaku mendaur ulang sampah. Selain itu juga menunjukkan bahwa faktor internal dan eksternal dipengaruhi oleh pengetahuan, baik pengetahuan tentang manfaat atau konsekwensi hasil dari perilaku maupun pengetahuan secara khusus tentang tata cara perilaku dilaksanakan.
Do-Valle, Rebelo, Reis, & Menezes (2005) juga mengungkapkan pentingnya membedakan pengetahuan, baik pengetahuan spesifik (tata cara) daur ulang maupun pengetahuan secara umum (manfaat atau keuntungan daur ulang). Pengetahuan tata cara daur ulang akan mempengaruhi persepsi seseorang tentang kemampuannya untuk mendaur ulang yang akhirnya juga mempengaruhi perilaku daur ulang.  Survey BPS (2013) mengindikasikan hal ini, baik dari ungkapan (alasan yang disampaikan) maupun tindakan dalam melakukan langkah awal daur ulang yakni pemilahan sampah domestik. Pengetahuan tentang manfaat atau konsekwensi hasil dari mendaur ulang juga akan berpengaruh pada perilaku daur ulang. Warga yang telah memilah sampah bila tahu memanfaatkannya tidak akan membuang sampah yang telah dipilah tersebut.
Pengetahuan sangat penting dalam menumbuhkan dorongan dan keyakinan kemampuan orang untuk bertindak mendaur ulang. Namun jika tidak ada kesempatan, perilaku dapat tidak terwujud (Thogersen, 1994). Kesempatan biasa dimaksudkan untuk menangkap faktor situasional seperti sistem pengelolaan sampah yang ada. Misalnya suatu komunitas memiliki sistem daur ulang, namun hanya menampung daur ulang botol bekas orang cenderung hanya mendaur ulang botol bekas, sedangkan barang lain seperti kertas akan diabaikan atau ada sistem pewadahan namun jaraknya cukup jauh dari warga dapat menyebabkan kenyamanan warga kurang sehingga tidak mendaur ulang. Ini menunjukkan perlunya sebuah wadah atau organisasi yang menangani dan memberi kenyaman orang untuk daur ulang. Namun menurut Davies, Foxall, dan Pallister (2002) pengetahuan dan dukungan faktor situasional belum cukup untuk tumbuhnya perilaku daur ulang. Hal ini dapat dilihat pada tingkat daur ulang di Inggris, di mana fasilitas cukup tersedia dan pengetahuan cukup tinggi dengan banyak informasi tentang daur ulang, namun tingkat daur ulang masih rendah (sekitar 9% bahan yang telah didaur ulang).
Selain pengetahuan dan situasional yang digambarkan di atas, demografi juga sering dijadikan pertimbangan dalam mendorong perilaku daur ulang. Para peneliti masih berbeda pandangan, ada yang pro dan ada kontra dalam pendapatnya tentang pengaruh faktor demografi. Namun ada dukungan dalam penelitian yang hasilnya menunjukkan bahwa perubahan perilaku daur ulang akan efektif jika dilakukan perempuan (IzagirreOlaizola, FernándezSainz, & VicenteMolina, 2015), orang dewasa/paruh baya dan lebih tua (Meneses dan Palacio, 2005; Saphores et al, 2006) dan telah menikah (Davies et.al, 2002). Hasil survey KLH (2013) juga menunjukkan perempuan lebih mungkin untuk melakukan pemilahan sampah yang merupakan bagian dari daur ulang daripada lelaki. Ini menunjukkan pentingnya peran ibu-ibu dalam menangani masalah sampah rumah tangga termasuk daur ulang.
Faktor-faktor penentu perilaku daur ulang yang diuraikan di atas cukup memberi pedoman untuk melakukan kegiatan mendorong perilaku mendaur ulang, di mana pengetahuan merupakan faktor penting yang dapat menumbuhkan perilaku daur ulang. Pengetahuan dapat ditingkatkan dengan pemberian informasi, pendidikan dan pelatihan. Menurut Bartholomew et. al. (2006) pelatihan merupakan cara yang paling banyak digunakan dalam rangka intervensi untuk merubah pengetahuan dan ketrampilan yang bertujuan adanya perubahan perilaku. Namun pelatihan semata sering tidak efektif dalam merubah perilaku, sehingga perlu juga memperhatikan cara penyampaian dan isi pesan dalam pelatihan. Hal senada juga dikemukakan oleh Tabernero dan Hernández (2012), dimana pada pelatihan sering hanya memperhatikan keberhasilan dari segi skill semata. Lebih lanjut Tabernero dan Hernández mengemukakan bahwa salah satu cara yang dapat diterapkan untuk mendorong perilaku daur ulang yakni dengan komunikasi persuasif pro-lingkungan[2]. Selain peningkatan pengetahuan juga perlu diperhatikan bahwa faktor situasional seperti organisasi yang mengelola daur ulang juga memiliki peran penting dalam mempengaruhi perilaku daur ulang.


[1] Prosentase perilaku rumah tangga terkait pemanfaatan dan pemilahan sampah rumah tangga atau sampah domestik yang diolah dari hasil survey BPS tahun 2012 dan 2013.
[2] Komunikasi persuasif pro-lingkungan merupakan cara komunikasi yang dikembangkan oleh Pelletier &  Sharp  (2008) dengan 3 langkap atau tahap (deteksi, keputusan dan implementasi) penyampaian perilaku pro-lingkungan




Rabu, 31 Desember 2014

Pentingnya Peningkatan Perilaku Pengelolaan Sampah

Pentingnya Peningkatan Perilaku Pengelolaan Sampah Rumah Tanga 
oleh: Ragil Moendjahid
Bekasi, 25 Desember 2014

PENDAHULUAN
 Sampah merupakan masalah krusial yang dihadapi setiap negara di dunia, demikian juga Indonesia. Menurut hasil penelitian untuk estimasi sampai tahun 2025, Indonesia merupakan Negara Asia– selain Filipina– yang menghadapi permasalahan sampah terbesar (World Bank, 1999). Permasalahan sampah tersebut telah berusaha ditangani oleh pemerintah Indonesia ditandai dengan keluarnya beberapa regulasi, diantarnya UU No 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga telah diundangkan sejak tanggal 15 Oktober 2012.
Namun demikian permasalahan sampah masih belum kunjung selesai, seperti kurang siapnya pemerintah memfasilitasi (Republika Online, 2012), dan kurangnya kepedulian masyarakat yang masih membuang sampah ke kali (Hendro, 2014) dan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah masih minim (Info Publik, 2014). Ini menunjukkan pengelolaan sampah belum dilaksanakan secara tuntas (Risdayanti, 2012).

Bekasi City Government Policy on Waste Handle

Kebijakan Pemerintah Kota Bekasi Dalam Menangani Sampah
oleh: Ragil Moendjahid
Jakarta, 31 Desember 2014

PENGANTAR
Sampah merupakan permasalahan yang pelik, namun harus ditangani. Pemerintah Bekasi dalam hal ini telah membuat Peraturan Daerah (Perda) Kota Bekasi nomor 15 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Sampah di Kota Bekasi. Perda (pasal 4) tersebut memiliki tujuan yang sangat mulia, pengelolaan sampah dimaksudkan “untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan, menjadikan sampah sebagai sumber daya, meningkatkan efisiensi penggunaan bahan baku, serta mengubah perilaku setiap orang.” Apalagi pasal selanjutnya, terutama poin (a) menyebutkan ‘menumbuh kembangkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah.’ Namun di lapangan, sampah masih banyak persoalan. Seperti kurangnya fasilitas yang disediakan pemerintah membuat sampah menumpuk (Republika Online, 2012), kebiasaan masyarakat membuang sampah ke kali menyebabkan banjir (Hendro, 2014). Dimana sejak di berlakukan perda tersebut belum banyak perubahan yang berarti. Menurut kepala Dinas Kebersihan Kota Bekasi, Junaedi tingkat kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah masih minim (Info Publik, 2014).

Jumat, 10 Desember 2010

Sebuah teori fokus normatif perilaku-Cialdini-Ind


Sebuah teori fokus perilaku normatif: Daur ulang konsep norma-norma untuk mengurangi sampah sembarangan di tempat umum.


Cialdini, Robert B. , Reno, Raymond R. , Kallgren, Carl A. . Journal of Personality and Social Psychology 58,6 (Jun 1990): 1015-1026.



Abstrak


Penelitian sebelumnya telah menghasilkan dukungan campuran di antara para ilmuwan sosial untuk utilitas dari norma-norma sosial dalam akuntansi untuk perilaku manusia. Kami berpendapat bahwa norma memiliki sebuah dampak besar pada tindakan manusia, namun dampaknya hanya dapat dikenali ketika para peneliti (a ) terpisah 2 jenis dari norma-norma yang kadang-kadang bertindak antagonis dalam sebuah norma situasi-ganti (apa yang kebanyakan orang lain menyetujui atau menolak ) dan norma-norma deskriptif (apa yang kebanyakan orang lain lakukan) dan (b) fokus perhatian Ss 'terutama pada jenis dari norma yang dipelajari. Dalam 5 pengaturan alam, dengan fokus Ss baik pada norma-norma deskriptif atau norma-norma mengenai ganti membuang sampah sembarangan menyebabkan keputusan yang membuang sampah sembarangan Ss 'untuk mengubah hanya sesuai dengan perintah dari jenis kemudian lebih menonjol dari norma. (PsycINFO Basis Data Record (c) 2012 APA, semua hak cipta)







Abstrak


Penelitian sebelumnya telah menghasilkan dukungan campuran di antara para ilmuwan sosial untuk utilitas dari norma-norma sosial dalam akuntansi untuk manusia perilaku . Kami berpendapat bahwa norma memiliki sebuah dampak besar pada tindakan manusia, namun dampaknya hanya dapat dikenali ketika para peneliti (a ) terpisah 2 jenis dari norma-norma yang kadang-kadang bertindak antagonis dalam sebuah norma situasi-ganti (apa yang kebanyakan orang lain menyetujui atau menolak ) dan norma-norma deskriptif (apa yang kebanyakan orang lain lakukan) dan (b) fokus perhatian Ss 'terutama pada jenis dari norma yang dipelajari. Dalam 5 pengaturan alam, dengan fokus Ss baik pada norma-norma deskriptif atau norma-norma mengenai ganti membuang sampah sembarangan menyebabkan keputusan yang membuang sampah sembarangan Ss 'untuk mengubah hanya sesuai dengan perintah dari jenis kemudian lebih menonjol dari norma.






Meskipun norma-norma sosial memiliki sebuah sejarah panjang dalam psikologi sosial, dukungan untuk konsep sebagai suatu perangkat penjelasan dan prediksi yang berguna saat ini cukup dicampur. Beberapa peneliti telah menggunakan dan memperjuangkan konsep sebagai penting untuk suatu pemahaman yang tepat tentang sosial manusia perilaku (misalnya, Berkowitz, 1972 ; Fishbein & Ajzen 1975 ; McKirnan, 1980 ; Pepitone 1976 , Sherif, 1936 ; Staub 1972 , Triandis, 1977). Orang lain telah melihat sedikit dari nilai di dalamnya, dengan alasan bahwa konsep tidak jelas dan terlalu umum, sering bertentangan, dan tidak cocok untuk pengujian empiris (misalnya, Darley & Latané, 1970 , Krebs, 1970 ; Krebs & Miller, 1985 ; Marini, 1984 ). Selain itu, sebuah kontroversi paralel telah berkembang dalam sosiologi akademik di mana kritikus ethnomethodological dan konstruksionis menyalahkan dominan normatif paradigma dari yang disiplin ( Garfinkel, 1967 ; Mehan & Wood, 1975 ).


Efek dari kritik-kritik ini telah positif dalam menunjukkan masalah yang harus diselesaikan sebelum seseorang dapat memiliki keyakinan dalam utilitas normatif penjelasan. Salah satu masalah tersebut adalah definisi. Keduanya dalam bahasa umum dan penggunaan akademis, norma memiliki lebih dari satu arti ( Shaffer, 1983). Ketika mempertimbangkan normatif pengaruh pada perilaku , sangat penting untuk membedakan antara yaitu (deskriptif) dan seharusnya (ganti) arti dari norma-norma sosial, karena masing-masing merujuk pada suatu sumber terpisah dari motivasi manusia ( Deutsch & Gerard, 1955 ). Norma deskriptif menggambarkan apa yang khas atau norma al. Ini adalah apa yang kebanyakan orang lakukan, dan itu memotivasi dengan memberikan bukti seperti apa kemungkinan akan efektif dan tindakan adaptif: "Jika setiap orang melakukan hal itu, itu harus menjadi suatu . hal yang masuk akal untuk melakukan " Cialdini (1988) berpendapat bahwa seperti sebuah Anggapan menawarkan keuntungan pengolahan informasi dan sebuah shortcut putusan ketika seseorang memilih bagaimana berperilaku dalam suatu situasi tertentu. Dengan hanya mendaftar apa yang kebanyakan orang lain lakukan di sana dan dengan meniru tindakan mereka, yang biasanya dapat memilih secara efisien dan baik. Para peneliti telah berulang kali menemukan bahwa persepsi dari apa yang kebanyakan orang lain yang melakukan pengaruh subjek untuk berperilaku sama, bahkan ketika perilaku yang secara moral netral seperti memilih suatu produk konsumen ( Venkatesan 1966 ) atau melihat ke langit ( Milgram, Bickman, & Berkowitz 1969 ). Arti ganti dari norma-norma mengacu pada aturan atau keyakinan untuk apa yang merupakan moral disetujui dan ditolak perilaku .Berbeda dengan norma-norma deskriptif, yang menentukan apa yang dilakukan, norma ganti menentukan apa yang harus dilakukan. Artinya, bukan hanya menginformasikan tindakan seseorang, norma-norma ini memerintahkan melalui janji dari sanksi sosial. Karena apa yang disetujui sering apa yang biasanya dilakukan, mudah untuk membingungkan dua makna dari norma-norma. Namun, mereka secara konseptual dan motivationally berbeda, dan penting bagi sebuah pemahaman yang tepat normatif pengaruh untuk menjaga mereka terpisah, terutama dalam situasi di mana keduanya bekerja secara simultan.


Sebuah sumber kedua dari kebingungan konsep dari norma-norma sosial adalah bahwa, meskipun mereka dikatakan untuk mengkarakterisasi dan membimbing perilaku dalam suatu masyarakat, mereka tidak harus dilihat sebagai seragam yang berlaku setiap saat dan dalam segala situasi. Artinya, norma-norma harus memotivasi perilaku terutama ketika mereka diaktifkan (yaitu, dibuat menonjol atau difokuskan pada), dengan demikian, orang-orang yang dispositionally atau sementara fokus pada normatif pertimbangan yang paling mungkin untuk bertindak dalam norma-cara yang konsisten ( Berkowitz, 1972 ; Berkowitz & Daniels, 1964 ; Gruder, Romer, & Korth, 1978 ; Miller & Grush, 1986 ; Rutkowski, Gruder, & Romer, 1983 ; Schwartz & Fleishman, 1978 .) Tentu saja, prosedur arti-penting harus efektif untuk kedua deskriptif dan ganti norma. Bahkan, dalam situasi dengan norma-norma deskriptif dan ganti yang jelas, fokus pada individu adalah dibandingkan seharusnya informasi harus mengarah pada perilaku perubahan yang konsisten hanya dengan jenis sekarang lebih menonjol dari norma.


Salah satu tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pernyataan ini berlaku untuk keputusan individu untuk sampah di tempat-tempat umum. Pilihan dari mengotori perilaku untuk penelitian ini terjadi karena beberapa alasan: ( a ) menyediakan sebuah aksi jelas diamati yang diatur oleh suatu norma injunctive banyak diadakan ( Bickman 1972 , Heberlein 1971 ; Jauhkan Amerika Indah, Inc, 1968 ) dan (b) itu merupakan sebuah masalah sosial yang berkembang dari cukup estetika, keuangan, dan kesehatan yang berhubungan dengan biaya untuk budaya.Di California saja, misalnya, sampah telah meningkat sebesar 24% dibandingkan dengan rentang baru-baru ini dari 15 tahun, membutuhkan $ 100,000,000 setiap tahun biaya pembersihan ( California Pengelolaan Limbah Dewan, 1988 ) dan berpose ancaman kesehatan bagi manusia dan satwa liar melalui pencemaran air, bahaya kebakaran , tikus dan serangga infestasi, kecelakaan jalan raya, dan ribuan dari cedera menderita kaleng dibuang dan botol rusak ( Geller, Winett, & Everett, 1982 ).Dengan demikian, sebuah pemahaman yang lebih baik dari yang normatif faktor moderasi sampah yang disengaja akan dari kedua nilai konseptual dan praktis.


Sebuah temuan umum dalam literatur tentang sampah sembarangan adalah bahwa tindakan secara signifikan lebih mungkin terjadi pada suatu pengaturan dikotori daripada di sebuah pengaturan yang bersih (misalnya, Finnie 1973 , Geller, Witmer, & Tuso, 1977 ; Heberlein 1971 , Krauss, Freedman, & Whitcup, 1978 ; Reiter & Samuel, 1980 ). Meskipun temuan ini kongruen dengan normatif pandangan bahwa, dalam banyak pengaturan, individu cenderung bertindak sesuai dengan norma perilaku yang jelas ada ( Krauss et al., 1978 ), juga konsisten dengan rekening motivasi lainnya. Sebagai contoh, dapat dikatakan bahwa kecenderungan untuk sampah lebih banyak di suatu lingkungan dikotori adalah karena imitasi sederhana.Atau, dapat dikatakan bahwa orang lebih mungkin untuk sampah ke dalam lingkungan dikotori karena mereka merasa bahwa sampah mereka akan melakukan sedikit kerusakan keadaan dari lingkungan daripada jika itu bersih.






Studi 1


Dalam percobaan pertama kami, subyek diberi kesempatan untuk sampah menjadi baik yang sebelumnya bersih atau suatu lingkungan yang penuh berserakan setelah menyaksikan sebuah konfederasi yang baik dikotori ke lingkungan atau berjalan melalui itu. Dengan memvariasikan negara dari lingkungan (clean vs dikotori), kami berusaha untuk memanipulasi norma deskriptif dirasakan untuk membuang sampah sembarangan dalam situasi tersebut. Dengan memanipulasi apakah konfederasi menjatuhkan sampah ke lingkungan, kami berusaha untuk mempengaruhi sejauh mana subjek tertarik untuk memusatkan perhatian pada keadaan dari lingkungan dan, akibatnya, pada norma deskriptif relevan di sana.


Kami memiliki dua prediksi utama: Pertama, kita diharapkan bahwa subjek akan lebih mungkin untuk sampah ke lingkungan yang sudah dikotori daripada menjadi seorang yang bersih. Harapan ini konsisten dengan temuan dari penelitian sebelumnya pada sampah (misalnya, Krauss et al, 1978. ; Reiter & Samuel, 1980 ) dan dengan pandangan bahwa, di kebanyakan rangkaian, individu setidaknya sedikit sadar dari norma-norma yang ada dan cenderung untuk bertindak sesuai dengan mereka.Kedua, dan yang lebih penting, kita diharapkan efek dari norma deskriptif untuk membuang sampah sembarangan dalam situasi tersebut (seperti yang ditunjukkan oleh negara dari lingkungan) secara signifikan ditingkatkan ketika perhatian subyek 'tertarik pada lingkungan dengan sebuah sampah sembarangan lainnya. Harapan ini didasarkan pada bukti-bukti yang cukup sebelum (lihat Fiske & Taylor, 1984 , untuk sebuah review) yang menunjukkan dampak psikologis thatubstantial dapat hasil dari prosedur salience melibatkan pergeseran sederhana dalam visual yang menonjol dari informasi stimulus, termasuk normatif informasi ( Feldman, Higgins, Karlovac, & rubel, 1976 ; Ferguson & Wells, 1980 , Manis, Dovalina, Avis, & Cardoze, 1980 ; Ruble & Feldman, 1976 ; Trope & Ginnosar, 1986 ). Secara khusus, kemudian, kami memprediksi interaksi tersebut bahwa subyek yang melihat sampah konfederasi ke dalam sebuah lingkungan yang penuh dikotori sampah akan lebih dari mereka yang tidak melihat sampah seperti itu, sedangkan subyek yang melihat sampah konfederasi ke dalam sebuah lingkungan yang bersih akan sampah kurang dari mereka yang melihat tidak membuang sampah sembarangan seperti itu.


Haruskah kita mendapatkan interaksi ini, kita akan memiliki dukungan yang baik untuk kami fokus Model perilaku normatif . Perlu dicatat bahwa komponen kedua dari ini diprediksi interaksi menambah bobot konseptual penting untuk pengujian kami dalam hal itu bertentangan dengan apa yang akan diantisipasi oleh akun saingan. Hal ini berlawanan dengan apa yang diharapkan jika subjek termotivasi hanya dengan sebuah keengganan lebih besar untuk sampah ke dalam bersih versus lingkungan dikotori karena dari kerusakan relatif lebih besar untuk lingkungan masing-masing yang membuang sampah sembarangan seperti itu akan menyebabkan, oleh sebab itu, mata pelajaran harus lebih mungkin untuk sampah setelah mengamati sampah sembarangan di sebuah lingkungan yang bersih karena lingkungan akan telah rusak. Demikian pula, komponen kedua dari interaksi kita diprediksi lubang norma fokus interpretasi / arti-penting terhadap suatu formulasi imitasi sederhana, di mana sebuah Litterer dihukum akan diharapkan untuk meningkatkan kecenderungan membuang sampah sembarangan dari pengamat di kedua jenis dari lingkungan.Dengan mendalilkan bahwa sebuah sampah lainnya akan memusatkan perhatian pada bukti dari apa yang mayoritas dari orang telah dilakukan, sehingga menyoroti normatif pertimbangan, hanya (deskriptif) norma fokus akun / arti-penting memprediksi bahwa membuang sampah sembarangan yang diamati akan mengurangi sampah berikutnya dalam sebuah lingkungan yang bersih.



Metode

Subyek dan Prosedur

Norm salience


Subyek penelitian adalah 139 pengunjung ke sebuah rumah sakit universitas yang berafiliasi yang kembali ke mobil mereka dalam berdekatan, bertingkat garasi parkir pada siang hari dari 5 hari dalam satu periode dari 8 hari berturut-turut. Sekitar 5 s setelah muncul dari lift, subyek menemui konfederasi eksperimental dari usia kuliah berjalan ke arah mereka. Dalam setengah dari contoh, konfederasi tampaknya akan membaca sebuah besar, 21,6 × 35,6 cm (81/2 × 14 in) selebaran, yang ia jatuh ke lingkungan sekitar 4,5 m (5 yd) sebelum melewati mata pelajaran ( salience norma tinggi). Sebuah konfederasi kedua dinilai apakah suatu subjek telah melihat insiden sampah dan, akibatnya, telah dibelokkan perhatiannya setidaknya sesaat ke lantai garasi parkir. Sebagian besar (93%) yang dinilai telah melakukannya, dan hanya mereka diperiksa untuk membuang sampah sembarangan berikutnya mereka perilaku . Di bagian lain dari contoh, konfederasi yang hanya berjalan melewati subjek tanpa membawa sebuah selebaran, sehingga memberikan gelar setara dari kontak sosial (norma arti-penting rendah).



da norma deskriptif


Untuk beberapa dari subyek, lantai dari struktur parkir telah banyak dikotori oleh peneliti dengan bermacam-macam dari selebaran, bungkus permen, puntung rokok, dan gelas kertas (prolittering norma yang ada). Untuk mata pelajaran yang tersisa, daerah telah dibersihkan dari semua sampah (antilittering norma yang ada).Keadaan dari lingkungan (dikotori atau bersih) yang berganti-ganti di blok 2-jam, dengan keadaan awal ditentukan secara acak pada awal dari setiap hari. Saat tiba di mobil mereka, subjek mengalami sebuah selebaran besar yang terselip di bawah pengemudi sisi wiper sehingga visi sebagian jelas dari kursi pengemudi. The selebaran, identik dengan yang dijatuhkan oleh konfederasi, membawa sebuah pesan yang dicap yang berbunyi, "THIS IS WEEK KESELAMATAN OTOMOTIF. HARAP MENGEMUDI SEKSAMA. " Sebuah selebaran serupa telah ditempatkan pada semua mobil lain di daerah juga.






Ukur dari mengotori


Dari sebuah sudut pandang yang tersembunyi, suatu percobaan mencatat seks pengemudi, usia perkiraan, dan apakah pengemudi berserakan selebaran tersebut.Mengotori didefinisikan sebagai menyetorkan selebaran di lingkungan luar dari kendaraan. Karena tidak ada wadah sampah di daerah tersebut, semua mata pelajaran yang gagal sampah melakukannya dengan mengambil dan mempertahankan selebaran di dalam kendaraan mereka sebelum berkendara jauh.


Analisis


Analisis dalam hal ini dan penelitian selanjutnya dilakukan dengan menggunakan program SPSS loglinier-X, dimana tes untuk efek dalam data yang dikotomis diperiksa melalui bersarang dari model hirarkis. Teknik ini memungkinkan pengujian dari parameter individu dengan membandingkan perbedaan dalam rasio kemungkinan chi-square dari sepasang dari model bersarang. Rasio kemungkinan dibedakan dilaporkan sebagai sebuah chi-square.






Hasil dan Diskusi


Perbedaan gender dan usia di sampah sembarangan terkadang telah ditemukan dalam penelitian masa lalu (lihat Geller et al., 1982 , untuk suatu review). Oleh karena itu, sebelum melanjutkan ke tes dari hipotesis teoritis kami, kami menjelajahi data untuk perbedaan jenis kelamin atau usia. Tidak ada yang ditemukan, akibatnya, variabel tidak termasuk dalam analisis berikutnya.


Gambar 1 menggambarkan jumlah dari sampah yang terjadi di masing-masing dari empat kondisi eksperimental. Analisis loglinier dari data tersebut menghasilkan sebuah set dari hasil yang sesuai dengan yang diprediksi oleh norma kami fokus Model. Pertama, seperti yang diharapkan, ada sebuah efek utama untuk norma deskriptif ada, bahwa subjek berserakan lebih dalam suatu lingkungan dikotori daripada di sebuah lingkungan yang bersih (41% vs 11%), χ 2 (1, N = 139) = 17,06 , p <.001. Kedua, efek ini terjadi kepada sebuah tingkat yang jauh lebih besar di bawah kondisi dari salience norma tinggi, ketika perhatian subyek 'tertarik pada norma deskriptif yang ada untuk lingkungan. Artinya, ukuran dari efek deskriptif-norma yang ada ketika konfederasi dikotori (6% vs 54%), χ 2 (1, N = 55) = 16,52, p <.001, secara signifikan lebih besar daripada ketika konfederasi melakukan buang sampah sembarangan (14% vs 32%), χ 2 (1, N = 84) = 3,99, p <.05, interaksi yang dihasilkan diuji sebagai sebuah perbandingan yang direncanakan yang terbukti sangat handal, χ 2 (1, N = 139 ) = 20,87, p <.001.Interaksi yang signifikan memberikan konfirmasi dari hipotesis kami bahwa prosedur yang dirancang untuk mengalihkan perhatian dalam suatu pengaturan hanya satu jenis dari operasi norma-dalam hal ini, norma-akan menghasilkan deskriptif perilaku perubahan yang konsisten hanya dengan jenis dari norma. Rupanya, hal ini bahkan ketika perilaku tersebut diatur oleh norma-ganti dalam hal ini, antilittering norma-yang kuat dan luas diadakan di masyarakat ( Bickman 1972 , Heberlein 1971 ; Jauhkan Amerika Indah, Inc 1968 ).





Perbesar Gambar ini.


Persentase mata pelajaran mengotori sebagai fungsi norma arti-penting, dan arah norma deskriptif mengenai sampah sembarangan: Study 1


Pola dari hasil juga mendukung prediksi directional terbuat dari model kita. Artinya, dalam kondisi dari tinggi (deskriptif) norma salience, subyek lebih berserakan di sebuah lingkungan yang dikotori (54% vs 32%), tetapi kurang dalam suatu yang bersih (6% vs 14%), meskipun tidak berpengaruh sederhana secara statistik signifikan , χ 2 s = 2,76 dan 1,18, masing-masing.


Ini adalah temuan terakhir ini, menunjukkan setidaknya membuang sampah sembarangan di antara subyek dalam tinggi norma salience / bersih kondisi lingkungan, yang tampaknya paling provokatif dari penelitian kami dan, oleh karena itu, layak dari pengejaran. Setelah semua, dari sudut pandang yang diterapkan, kita harus terutama tertarik pada strategi untuk pengurangan sampah. Selain itu, fakta bahwa setidaknya membuang sampah sembarangan terjadi antara subyek yang mengamati sampah sebelum menjadi sebuah lingkungan yang bersih adalah daribunga konseptual yang cukup besar, karena mendukung norma fokus prediksi atas mereka yang muncul dari sebuah imitasi sederhana atau account kerusakan lingkungan. Alasan yang baik ada, namun, untuk berhati-hati dalam menarik kesimpulan konseptual yang kuat dari temuan ini. Meskipun bagian dari prediksi teoritis, interaksi yang signifikan, penurunan sampah sembarangan karena norma tinggi arti-penting dalam lingkungan yang bersih jauh dari signifikan dengan sendirinya. Tentu saja, kurangnya dari signifikansi baik mungkin terjadi karena dari efek lantai, karena untuk tingkat rendah dari sampah (14%) dalam arti-penting / bersih kondisi norma lingkungan rendah, namun, untuk kepentingan darikepercayaan statistik ditingkatkan, sebuah replikasi tampak dibenarkan.






Studi 2


Dalam merencanakan untuk meniru dan memperluas penelitian awal kami, kami mengakui sebuah sepasang dari implikasi diuji yang mengalir dari analisis kami sebelumnya. Pertama, konsisten dengan hasil dari studi 1, sebuah subjek yang menyaksikan bukti dari sampah di lingkungan jika tidak bersih harus sampah kurang sebagai suatu hasil, namun bukti akan tidak harus mengambil bentuk, seperti yang terjadi di Studi 1, dari diamati tindakan membuang sampah sembarangan. Artinya, konsekuensi dari tindakan tersebut- satu satu bagian dari sampah tergeletak di sebaliknya bersih lingkungan harus memiliki efek yang sama, karena dari kejelasan nya, dengan menarik perhatian lingkungan yang deskriptif norma (kecuali untuk satu Litterer menyimpang) jelas antilitter. Kedua, sebagai jumlah dari peningkatan sampah progresif dalam sebuah pengaturan, sehingga seharusnya kemungkinan bahwa suatu subjek akan sampah ke dalamnya karena, menurut definisi, sampah yang akan mengubah norma deskriptif untuk pengaturan. Dengan hasil dari pasangan ini dari implikasi dari kami normatif analisis adalah sebuah prediksi nonintuitive: Kemungkinan bahwa akan sampah individu menjadi lingkungan bantalan berbagai potongan dari jelas, sampah yang masih ada akan dijelaskan oleh sebuah fungsi check-mark berbentuk. Sedikit membuang sampah sembarangan harus terjadi dalam suatu lingkungan yang bersih, masih kurang harus terjadi dengan sebuah tunggal sepotong dari sampah di lingkungan jika tidak bersih, tapi membuang sampah sembarangan semakin besar harus terjadi sebagai sampah menumpuk dan norma deskriptif untuk situasi berubah dari antilitter untuk prolitter.



Metode


Subyek dan Prosedur


Subyek penelitian adalah 358 pengunjung ke sebuah taman hiburan di sebuah kota barat daya besar selama jam malam dari sepasang dari akhir pekan di awal musim panas. Segera sebelum menyalakan sebuah sudut tertentu pada sebuah jalan taman, subjek mengalami suatu usia kuliah konfederasi eksperimental membagikan selebaran bertuliskan "JANGAN LEWATKAN TONIGHT'S SHOW," yang merujuk pada sebuah program hiburan yang disponsori oleh taman pada malam akhir pekan.Konfederasi tersebut diperintahkan untuk memberikan sebuah selebaran, pada interval 1 menit, untuk pertama lewat dewasa berjalan sendirian atau satu orang dewasa (yang paling dekat secara fisik) pada kelompok pertama yang lewat. Pada mengubah sudut jalan, subyek, yang tidak lagi terlihat oleh konfederasi, menghadapi sebuah jalan dari sekitar 55 m (60 yd) dari yang tidak ada jalan keluar kecuali mungkin pada ujung-ujungnya.






Negara dari lingkungan


Semua sampah telah dihapus dari jalan kecuali untuk nomor yang berbeda-beda dari handbills dari jenis yang subjek baru saja diberikan oleh sebuah konfederasi.Tergantung pada kondisi eksperimental, jalan berisi 0, 1, 2, 4, 8, atau 16 handbills yang terlihat dari pintu masuk jalan.






Pengukuran dari mengotori


Karena tidak ada wadah sampah yang tersedia di jalan, sebuah subjek yang disimpan sebuah selebaran ke lingkungan pada setiap titik sepanjang panjangnya jalan itu dianggap sebuah Litterer. Subyek 'mengotori perilaku yang diam-diam diamati oleh seorang tersembunyi, konfederasi eksperimental kedua, yang juga waktunya subyek 'latency untuk sampah (kegagalan untuk sampah diberi sebuah skor dari 100 s) dan yang dihapus setiap handbills baru dikotori dari jalan. Pada jalan keluar, mata pelajaran ternyata sebuah sudut untuk menemukan sebuah pasangan dari wadah sampah yang sebelumnya tak terlihat, hampir semua mata pelajaran yang tidak dikotori saat itu menjatuhkan selebaran mereka ke salah satu dari wadah.






Hasil dan Diskusi


Seperti dalam studi 1, pertama kita meneliti data sampah untuk perbedaan usia dan jenis kelamin. Tidak ada efek signifikan yang diperoleh karena dari usia subjek.Namun, kami menemukan sebuah kecenderungan yang signifikan bagi pria untuk sampah lebih sering daripada perempuan (31% vs 19%), χ 2 (1, N = 358) = 7,41, p <.01.


Gambar 2 menggambarkan persentase dari litterers di setiap dari kondisi eksperimental dari studi 2. Pola Data erat mencerminkan bentuk tanda centang prediksi dari kami normatif analisis. Fungsi tanda centang hipotesis diuji dalam suatu proses terdiri dari dua. Pertama, kami membangun sebuah perbandingan yang direncanakan menggunakan trend bobot yang dimodelkan bentuk tanda centang (-2, -4, -1, 1, 2, 4). Hal ini terbukti signifikan, χ 2 (1, N = 358) = 21,80, p <.01. Sebuah perbandingan yang direncanakan kedua kemudian dilakukan untuk menguji apakah suatu perbedaan mengotori terjadi antara kondisi nol sampah dan one-piece- of -lingkungan -sampah kondisi. Tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan, χ 2 (1, N = 229) = 1,64, p <.20. Analisis Sebanding dilakukan pada latency data sampah yang ditunjukkan pada Gambar 3. Seperti frekuensi sampah sembarangan, kontras pertama terbukti signifikan, F (1, 352) = 20,65, p <.01, sedangkan yang kedua tidak ( F <1 ada="" antara="" class="hit" idak="" interaksi="" nbsp="" salah="" signifikan="" span="" style="background-color: #f4e99d; padding: 0px 2px; z-index: 500 !important;" yang="">dari

kontras ini dan gender.





Perbesar Gambar ini.


Persentase mata pelajaran mengotori sebagai fungsi dari jumlah potongan sampah di lingkungan: Studi 2





Perbesar Gambar ini.


Rata-rata latency untuk sampah sebagai fungsi dari jumlah potongan sampah di lingkungan: Studi 2






Studi 3


Meskipun bentuk umum dari temuan dari studi 2 dikonfirmasi prediksi kami, satu fitur penting dari hasil yang ditawarkan hanya mendukung ambigu. Penurunan hipotesis dalam membuang sampah sembarangan dari kondisi lingkungan yang bersih dengan one-piece- of -sampah kondisi dari penelitian, meskipun saat ini (18% vs 10%), tidak konvensional signifikan, sehingga kemungkinan bahwa mungkin telah menjadi keseluruhan linearitas dari pola tanda centang, daripada siku seperti tikungan nya, yang menyumbang signifikansi dari perbandingan umum yang direncanakan. Ambiguitas ini sangat membuat frustrasi karena, seperti dalam studi 1, tampak bahwa suatu efek lantai dalam data mungkin telah mencegah sebuah demonstrasi yang jelas dari pengurangan sampah dalam situasi diprediksi oleh formulasi kami. Sulit untuk menghasilkan kurang signifikan dibandingkan sampah dari lingkungan yang bersih ketika lingkungan yang bersih menghasilkan begitu sedikit sampah sembarangan itu sendiri.


Akibatnya, kami memutuskan untuk melakukan replikasi konseptual dari kondisi teoritis yang relevan dari studi 2 yang dirancang untuk mengatasi masalah lantai-efek. Salah satu cara untuk menangani suatu efek lantai dari jenis yang dihadapi kita adalah untuk meningkatkan kekuatan statistik yang berkaitan dengan uji signifikansi kami dengan meningkatkan jumlah dari subjek berjalan di setiap kondisi.Dengan demikian, kami menggunakan pengaturan percobaan yang akan memungkinkan kita untuk merekam keputusan sampah dari sejumlah besar dari subyek dalam suatu waktu yang relatif singkat dari waktu. Selain itu, dalam upaya untuk mempertajam dampak dari single-piece-kita dari -sampah manipulasi, kami memilih satu satu bagian lebih mencolok dari sampah daripada kita telah digunakan dalam studi 2.


Secara khusus, subyek adalah warga asrama perguruan tinggi yang menemukan sebuah flier pelayanan publik dalam kotak surat mereka. Lingkungan di depan dari kotak surat telah diatur sedemikian rupa sehingga itu berisi ( a ) tidak ada sampah, (b) salah satu bagian dari sampah yang sangat mencolok ( a berlubang-out, bagian akhir dari semangka kulit), atau (c) sebuah array besar dari berbagai jenis dari sampah, termasuk kulit semangka. Variabel terikat adalah kecenderungan subyek untuk sampah dengan selebaran. Atas dasar dari kami normatif analisis dan pola dari hasil dari Studi 1 dan 2, kami membuat sebuah pasangan dari prediksi.Pertama, kami mengantisipasi bahwa subjek akan sampah lebih ke sebuah lingkungan yang penuh berserakan daripada menjadi seorang yang bersih. Kedua, kita diharapkan bahwa mereka akan sampah paling tidak ke lingkungan jika tidak bersih yang berisi satu tunggal, perhatian fokus sepotong dari sampah.






Metode






Subyek


Subyek penelitian adalah 484 warga dari padat penduduk, bertingkat tinggi asrama perempuan di kampus sebuah universitas negeri yang besar.






Prosedur


Kotak surat warga yang terletak di baris di salah satu sudut dari lobi utama asrama itu. Wilayah kotak terputus visual dari sebagian besar dari lobi oleh sebuah partisi tembus. Setelah melewati partisi, subjek mengalami suatu daerah terbuka yang digawangi kotak surat. Selama satu 10 a m.. periode schoolday 16:00, warga yang membuka kotak surat mereka untuk menemukan sebuah flier pelayanan publik ditempatkan di sana sebagai bagian dari percobaan dihitung sebagai subyek, asalkan tidak ada orang lain secara bersamaan di daerah mendapatkan surat-suratnya.


Tergantung pada kondisi eksperimental, subjek melewati daerah terbuka di depan dari kotak surat mereka mengalami lingkungan yang tidak mengandung sampah atau satu satu bagian dari sampah ( yang berlubang-out, bagian tumit dari semangka kulit), atau suatu sejumlah besar dari potongan-potongan dari sampah dari berbagai jenis (misalnya, selebaran dibuang, puntung rokok, cangkir kertas, bungkus permen, dan minuman ringan kaleng), termasuk kulit semangka. Sebuah subjek dianggap telah dikotori jika dia disimpan flier di mana saja di lingkungan (semua kontainer limbah telah dihapus) sebelum keluar lobi ke lift atau melalui satu set dari pintu menuju ke kampus. Dari mereka subyek yang berserakan, sebagian besar yang diamati oleh suatu percobaan diam-diam ditempatkan untuk melakukannya di daerah di depan dari kotak surat.






Hasil dan Diskusi


Persentase dari sampah dalam tiga kondisi percobaan disajikan pada Gambar 4.Pola mereka sangat sesuai dengan prediksi kami berdasarkan normatif perspektif, memang, tren kuadrat yang diharapkan sangat signifikan, χ 2 (1, N = 484) = 23.12, p <.001. Selain itu, tes kontras direncanakan dari dua prediksi eksperimental kami yang mendukung pada tingkat konvensional dari signifikansi.Pertama, subyek lebih mungkin untuk sampah ke dalam lingkungan yang sepenuhnya dikotori daripada menjadi satu unlittered (26,7% vs 10,7%), χ 2 (1, N = 291) = 12.62, p <.001. Kedua, subyek kurang mungkin untuk sampah ke lingkungan ketika itu berisi satu tunggal, sepotong menonjol dari sampah daripada saat unlittered (3,6% vs 10,7%), χ 2 (1, N = 335) = 6.79, p <. 01.





Perbesar Gambar ini.


Persentase mata pelajaran mengotori sebagai fungsi dari jumlah sampah di lingkungan: Studi 3






Implikasi teoritis


Untuk saat ini, kami telah melaporkan data dari tiga percobaan dalam tiga pengaturan alam yang berbeda yang tampaknya berkumpul cukup untuk memungkinkan generasi dari pernyataan tentang nilai konseptual dan pragmatis dari data tersebut. Di sisi konseptual, tampak bahwa norma dapat berpengaruh dalam mengarahkan tindakan manusia, namun, sesuai dengan semangat dari kritik sebelum normatif penjelasan, perlu bagi teori norma untuk lebih spesifik tentang kedua jenis dari norma (keputusan hukum atau deskriptif ) dianggap bertindak dalam suatu situasi dan tentang kondisi di mana kemungkinan untuk bertindak. Membedakan antara norma-norma ganti dan deskriptif sangat penting, karena kedua jenis bisa eksis secara bersamaan dalam suatu pengaturan dan dapat memiliki implikasi baik kongruen atau bertentangan untuk perilaku . Sebagai contoh, dalam studi 1 kami menunjukkan bahwa melalui prosedur yang dirancang untuk menyoroti perbedaan norma-norma deskriptif, kita bisa meningkatkan atau melemahkan sesuai dengan norma injunctive societywide terhadap sampah sembarangan. Seperti sebuah temuan tidak boleh ditafsirkan bahwa norma-norma deskriptif, dalam hal ini atau secara umum, lebih kuat daripada norma ganti. Sebaliknya, itu adalah diferensial fokus dari perhatian pada satu atau jenis lain dari norma yang adalah kuncinya.Memang, bahkan dalam jenis yang sama dari norma, tampaknya menjadi kasus dari temuan kami bahwa fokus perhatian merupakan komponen penting. Dalam semua tiga percobaan, mengekspos subjek untuk satu satu bagian dari sampah di lingkungan-jika tidak bersih suatu prosedur yang dirancang untuk menarik perhatian subyek untuk apa yang telah dilakukan kebanyakan orang dalam pengaturan (yaitu, norma deskriptif)-mengurangi sampah sembarangan di sana.






Aplikasi Praktis


Karena sampah sembarangan adalah sebuah masalah sosial, adalah tepat untuk mempertimbangkan aplikasi praktis potensial dari data kami juga. Temuan dari nilai terapan terbesar tampaknya bahwa subjek dalam tiga pengaturan yang berbeda dikotori setidaknya setelah menghadapi satu bagian tunggal dari sampah di tempat lain unlittered. Pada pandangan pertama, seperti sebuah hasil mungkin tampaknya menunjukkan bahwa individu yang ingin menghambat akumulasi dari sampah di suatu lingkungan tertentu mungkin membubuhkan satu tunggal, sepotong menonjol dari sampah di sana. Pertimbangan lebih dekat, bagaimanapun, menjadi jelas bahwa pendekatan semacam itu akan kalah dengan dimulai dengan suatu lingkungan yang benar-benar bersih. Pemeriksaan dari Gambar 2 dan 3 , menunjukkan kemungkinan rata-rata dan latency dari sampah antara subyek dalam penelitian taman hiburan kami, menggambarkan titik. Subyek yang mengalami sebuah lingkungan yang sangat bersih cenderung tidak ada sampah, yang mengakibatkan penundaan yang lama sebelum orang despoiled dengan sebuah selebaran. Setelah sebuah selebaran tunggal muncul di pengaturan, subjek bahkan lebih kecil kemungkinannya untuk sampah, menghasilkan latency lebih lama sebelum bagian kedua dari sampah muncul. Pada saat itu, dengan dua potong dari sampah terlihat di lingkungan, norma deskriptif mulai berubah, dan keengganan subyek untuk sampah ke pengaturan mulai memburuk terus, mengarah ke lebih pendek dan lebih pendek latency membuang sampah sembarangan dengan meningkatnya akumulasi dari sampah. Siapa saja yang ingin mempertahankan negara dari suatu lingkungan tertentu, maka, harus dimulai dengan sebuah pengaturan yang bersih sehingga dapat menunda untuk waktu terbesar penampilan dari dua potong dari sampah di sana, karena kedua potongan dari sampah cenderung untuk memulai sebuah licin lereng efek yang mengarah ke sebuah lingkungan yang penuh berserakan dan sebuah persepsi sepenuhnya menyadari bahwa "semua orang litters di sini." Logika ini lebih lanjut menunjukkan bahwa lingkungan yang terbaik akan dapat menghambat sampah sembarangan jika mereka mengalami sering dan menyeluruh sampah pickup yang mengembalikan mereka ke optimal Kondisi sampah-bebas.





Perbesar Gambar ini.


Persentase mata pelajaran mengotori sebagai fungsi dari jumlah potongan sampah di lingkungan: Studi 2





Perbesar Gambar ini.


Rata-rata latency untuk sampah sebagai fungsi dari jumlah potongan sampah di lingkungan: Studi 2


Dalam mempertimbangkan implikasi praktis dari data kami, kami mengakui sebuah kelemahan dalam keputusan kami untuk memfokuskan perhatian subyek 'pada deskriptif daripada norma ganti untuk membuang sampah sembarangan: Prosedur yang fokus pada subyek norma deskriptif hanya akan mengurangi sampah ketika lingkungan seluruhnya atau hampir murni. Memang, seperti yang disarankan dalam data dari studi 1, sebuah norma deskriptif fokus ketika lingkungan secara substansial dikotori akan cenderung meningkat membuang sampah sembarangan di sana-hampir tidak sebuah hasil yang diinginkan untuk setiap tetapi teori -tujuan pengujian. Sebuah norma-deskriptif berfokus prosedur, maka, seharusnya hanya memiliki efek menguntungkan secara sosial dalam lingkungan yang tidak membutuhkan banyak bantuan. Keadaan berbeda, namun, ketika norma injunctive dibuat menonjol dan kapan, akibatnya, individu berfokus pada apa yang biasanya orang menyetujui dan menolak bukan pada apa yang biasanya mereka lakukan dalam sebuah situasi. Dengan membuat norma keputusan hukum terhadap sampah lebih menonjol, kita harus mengharapkan mengurangi sampah sembarangan bahkan dalam sebuah lingkungan yang sangat dikotori.


Sebuah uji dari hipotesis ini tampaknya berperan untuk sebuah pasangan dari tujuan yang mungkin berharga. Pertama, pada tingkat praktis, mungkin menetapkan norma fokus prosedur yang dapat digunakan untuk sampah pengurangan dalam sebuah berbagai dari lingkungan. Kedua, pada tingkat konseptual, itu akan menghasilkan bukti untuk atau terhadap pendapat kami bahwa memfokuskan perhatian pada kedua adalah atau seharusnya informasi akan menyebabkan perilaku perubahan yang konsisten hanya dengan jenis sekarang lebih menonjol dari norma, untuk saat ini dalam program penelitian , kami telah diperiksa hanya setengah dari anggapan bahwa dengan berkonsentrasi hanya pada norma-norma deskriptif.






Studi 4


Ingatlah bahwa dalam studi 1, kami berpendapat bahwa suatu tindakan konfederasi yang dari menjatuhkan sebuah flier ke lingkungan akan menarik perhatian mata pelajaran 'terhadap lingkungan itu dan untuk membersihkan bukti (bahwa kami telah dimanipulasi) mengenai apakah orang-orang biasanya berserakan di sana. Dengan cara ini, kami berusaha untuk memanipulasi fokus perhatian pada norma deskriptif yang ada tentang sampah sembarangan dalam pengaturan.Agaknya, jika bukan lingkungan adalah untuk memberikan bukti yang jelas dari apa yang societally disetujui atau ditolak di sana, perhatian-sama fokus perangkat akan berfungsi sebagai norma aktivator ganti, karena persetujuan berdasarkan societally atau ketidaksetujuan adalah karakteristik yang membedakan dari norma-norma hukum yang diperlukan ( Birnbaum & Sagarin 1976 , Marini, 1984 ; Sherif & Sherif, 1969 ).


Pertanyaan dari apa yang jelas isyarat persetujuan / ketidaksetujuan dapat ditempatkan secara efektif dalam suatu lingkungan alam untuk menguji formulasi kami dijawab secara kebetulan ketika melakukan Study 1. Penelitian tersebut dijalankan dalam sebuah garasi parkir yang dindingnya hanya naik setengah dari lantai ke atap di setiap tingkat. Pada suatu hari terutama berangin, sampah kami telah didistribusikan di seluruh lantai garasi dalam kondisi lingkungan yang penuh berserakan ditiup terhadap dinding dalam, seolah-olah seseorang telah menyapu di sana dalam sebuah garis rapi. Ketika sebuah konfederasi menjatuhkan sebuahselebaran ke lingkungan itu, hampir tidak ada mata pelajaran dikotori, sedangkan, pada hari-hari sebelumnya sebagian dari subyek dalam kondisi eksperimental telah dikotori. Dalam perjalanan dari bingung memikirkan perbedaan, kami menyadari bahwa kecenderungan sampah dari subjek berangin-hari mungkin telah menurun ketika perhatian dipanggil ke sampah cukup besar dalam lingkungan karena sampah yang memberikan (salah) kesan dari yang telah menyapu- a jelas ketidaksetujuan isyarat.


Berbekal wawasan potensi ini, kami memutuskan untuk melakukan replikasi parsial dan perluasan dari studi 1, di mana subyek melihat sebuah konfederasi yang baik atau tidak menjatuhkan sebuah selebaran ke lingkungan yang terkandung dalam jumlah besar dari baik menyapu atau unswept sampah. Dalam kasus dari sampah unswept, kita diharapkan untuk meniru pola data dari studi 1 untuk sel eksperimental sebanding, yaitu, kami mengantisipasi bahwa dengan menjatuhkan sebuah selebaran, konfederasi akan memfokuskan perhatian subyek 'terhadap lingkungan dan bukti bahwa orang-orang yang biasanya sampah di sana, yang harus menyebabkan sampah meningkat. Dengan menjatuhkan sebuah selebaran ke sebuah lingkungan di mana sampah sebelum telah menyapu (ke dalam tumpukan), kami mengantisipasi bahwa konfederasi akan sekali lagi fokus perhatian subyek 'terhadap lingkungan. Tapi dalam hal ini, subyek akan menemukan sebuah pesan yang membingungkan, yang terdiri dari norma isyarat deskriptif (sampah berlimpah) yang akan condong ke arah mereka membuang sampah sembarangan dan norma isyarat injunctive (menyapu sampah) yang akan miring mereka menentangnya. Oleh karena itu, kami memperkirakan bahwa perbedaan dalam membuang sampah sembarangan ditemukan dalam kondisi unswept akan terbalik atau setidaknya dikurangi. Secara statistik, maka, kita diharapkan interaksi antara dua variabel independen kami dari apakah sebuah konfederasi menjatuhkan sebuahselebaran ke lingkungan (tinggi atau rendah salience norma) dan apakah lingkungan terkandung menyapu atau sampah unswept (ada atau tidak adanya dari norma isyarat ganti). Selain itu, kami mengharapkan suatu bentuk khusus untuk interaksi itu, sehingga perbedaan dalam membuang sampah sembarangan ditemukan antara kondisi sampah menyapu dan unswept di bawah prosedur salience rendah norma akan ditingkatkan secara signifikan di bawah prosedur salience tinggi norma. Artinya, itu adalah keyakinan kami bahwa, di bawah kondisi salience rendah, normatif pasukan ini akan didaftarkan hanya minimal oleh subjek, sehingga hanya yang menyapu / perbedaan unswept minimal. Namun, dalam kondisi arti-penting tinggi dengan normatif masalah sekarang fokus, efeknya akan diperbesar.






Metode






Subyek dan Prosedur






Norm salience


Subyek penelitian adalah 127 pengunjung ke sebuah rumah sakit universitas yang berafiliasi pada sore dan awal malam jam dari 6 hari dalam satu periode 13-hari.Mereka menjalani prosedur salience sama norma sebagai subyek dalam studi 1.Artinya, setelah muncul dari sebuah elevator garasi parkir, mereka menemukan sebuah konfederasi usia kuliah yang baik menjatuhkan sebuah selebaran khas berwarna ke lantai dalam pandangan subyek 'atau hanya berjalan melewati tanpa membawa sebuah selebaran.






Kehadiran dari norma isyarat ganti


Untuk beberapa mata pelajaran, lantai dari struktur parkir telah banyak dikotori oleh peneliti, dengan sampah didistribusikan di seluruh lingkungan dalam sebuah cara yang identik dengan yang dari studi 1. Untuk mata pelajaran yang tersisa, semua dari sampah ambient ini telah menyapu menjadi tiga tumpukan besar yang terletak sekitar 9 m (10 yd) terpisah dalam sebuah garis. Dalam kondisi salience / menyapu sampah tinggi norma, konfederasi menjatuhkan sebuah selebaran ke lantai sekitar 1,5 m (5 ft) setelah melewati tumpukan dari sampah. Diputuskan untuk memiliki konfederasi drop selebaran segera di depan, tetapi dalam tampilan penuh, dari tumpukan sampah untuk menghindari penjelasan imitasi untuk efek kita diprediksi. Artinya, jika subjek telah melihat konfederasi drop sebuah selebaran ke dalam salah satu dari tumpukan, maka penurunan diperkirakan dalam membuang sampah sembarangan berikutnya subyek 'bisa ditafsirkan sebagai model sederhana dari sebuah keputusan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Kondisi sampah menyapu atau unswept dijalankan di bolak blok 2-jam, dengan penayangan pertama dari hari yang ditentukan secara acak.






Ukur dari mengotori


Mengotori dinilai seperti di Studi 1.






Hasil dan Diskusi


Pengaruh dari usia dan jenis kelamin pada tingkat sampah sembarangan diperiksa dalam analisis awal, tidak ada efek signifikan terjadi. Dengan demikian, variabel-variabel ini tidak dimasukkan dalam analisis lebih lanjut.


Persentase dari mata pelajaran yang berserakan di setiap dari kondisi eksperimental dari desain kami ditampilkan dalam Gambar 5. Mereka persentase terjadi di sebuah pola yang konsisten dengan bentuk dari interaksi yang kita dituntun untuk mengantisipasi dari norma kami fokus formulasi. Menggunakan loglinier analisis, kami menguji interaksi yang dengan suatu perbandingan yang direncanakan yang kontras perbedaan antara dua sel salience rendah norma (29% vs 33%), χ 2 (1, N = 68) = 0,18, ns, aginst perbedaan antara dua sel arti-penting tinggi-norma (18% vs 45%), χ 2 (1, N = 59) = 5,19, p <.02. Bahwa tes interaksi terbukti signifikan, χ 2 (1, N = 127) = 4,91, p <.03.





Perbesar Gambar ini.


Persentase mata pelajaran sampah sebagai fungsi norma arti-penting, dan konfigurasi sampah di lingkungan: Studi 4


Melihat pola interaksi dengan cara lain, kita dapat melihat bahwa itu terdiri dari dua kecenderungan-lawan tidak signifikan dengan sendirinya, tetapi berbeda secara signifikan berbeda satu sama lain-baik dihasut oleh perhatian-sama fokus prosedur.Artinya, ketika sebuah selebaran menjatuhkan menarik perhatian lingkungan unswept yang, oleh alam sepenuhnya dikotori nya, memberikan bukti dari norma deskriptif yang jelas mendukung membuang sampah sembarangan di sana, mengotori kecenderungan naik (33% vs 45%). Namun, ketika perangkat yang sama menarik perhatian lingkungan yang mencakup sebuah jelas bertentangan ganti norma isyarat juga, kecenderungan membuang sampah sembarangan terbalik (29% vs 18%). Pola dari efek sangat sesuai dengan masing-masing dari tujuan kita tetapkan untuk studi 4. Pertama, mendukung pernyataan teoritis kami bahwa norma-norma baik deskriptif dan ganti dapat menimbulkan perilaku perubahan, dengan keunggulan dari satu atau jenis lain dari norma akuntansi untuk arah perubahan. Kedua, ia menawarkan alasan untuk berharap bahwa jenis tertentu dari tindakan yang tidak diinginkan (sampah sembarangan, minum dan mengemudi, kecurangan pajak, jalan raya ngebut, dll) dapat dikendalikan oleh penggunaan dari prosedur yang sementara fokus individu pada norma-norma keputusan hukum dalam pengaturan di mana tindakan yang paling mungkin terjadi.






Studi 5


Untuk saat ini dalam program penelitian kami, kami telah meneliti keabsahan dari norma kami fokus formulasi dengan menggunakan perhatian fokus prosedur yang dirancang untuk membuat subyek sadar dari norma deskriptif tertentu (Studi 1-3) atau dari norma-norma deskriptif dan ganti bertentangan (Studi 4) yang mengatur sampah dalam sebuah situasi. Tiga studi pertama ditemukan resultan perilaku perubahan sepenuhnya sejalan dengan norma deskriptif. Penelitian keempat, yang menambahkan bukti dari norma injunctive bertentangan dengan persepsi dari norma deskriptif yang ada, mematahkan dominasi dari norma deskriptif atas subyek ' perilaku , itu benar-benar menghasilkan sebuah (tidak signifikan) pengurangandari sampah di lingkungan di mana seorang yang jelas, prolittering norma deskriptif ada. Tampaknya kita bahwa langkah logis berikutnya dalam perkembangan ini adalah untuk melakukan satu studi tambahan yang dihapus setiap prolittering deskriptif norma fokus dan bahwa subyek terkonsentrasi secara eksklusif di ganti itu, antilittering norma. Itu adalah harapan kami bahwa seperti tidak terkontaminasi, ganti norma fokus maka akan menyebabkan sebuah penurunan yang signifikan dalam membuang sampah sembarangan.


Kami melihat alasan lain untuk melakukan percobaan tambahan. Dalam Studi 1 sampai 4, norma-kami fokus manipulasi melibatkan menjatuhkan dari sepotong nyata dari sampah ke lingkungan (baik oleh seorang individu melihat atau tak terlihat) sehingga dapat menarik perhatian subyek 'ke normatif menyajikan informasi dalam lingkungan tersebut. Ada beberapa keuntungan dari menggunakan yang tertentu perhatian fokus perangkat, termasuk kemampuan untuk membuat prediksi nonintuitive tertentu yang tidak akan mengalir dari rekening teoritis saingan.Kami juga mengakui, bagaimanapun, bahwa akan ada kelemahan tertentu untuk menggunakan prosedur yang sama lagi. Pertama, sifat umum dari argumen konseptual kami bisa dilihat sebagai belum teruji di luar jangkauan dari manipulasi salience norma tertentu kami. Yang lebih penting, meskipun, menggunakan sampah sembarangan untuk menyoroti norma-norma yang berkaitan dengan sampah sembarangan bisa menciptakan ambiguitas penafsirannya. Yaitu, sampah sembarangan tindakan itu sendiri tidak netral. Ini membawa makna sosial (tergantung pada situasi di mana itu terjadi) yang cenderung menghasilkan berbagai macam dari persepsi dari agen sampah sembarangan. Ada kemungkinan bahwa satu atau lain dari persepsi ini bisa bertindak untuk miring subyek untuk mengikuti atau menolak memimpin Litterer itu. Sebagai contoh, meskipun tidak mungkin bahwa seseorang yang berserakan ke sebuah lingkungan yang penuh berserakan, seperti yang terjadi di Studi 4, akan dilihat positif oleh subyek, seseorang yang berserakan ke dalam lingkungan dari rapi menyapu sampah dapat dilihat dalam cahaya yang negatif terutama, melainkan Ada kemungkinan bahwa pandangan yang lebih negatif ini mungkin telah menyumbang pengurangan sampah sembarangan di antara mata pelajaran seperti di Studi 4. Demikian pula, dapat dibayangkan bahwa subjek dalam Studi 1 sampai 3 mungkin memiliki reaksi tidak menyenangkan untuk Litterer pun yang akan sampah menjadi sebuah pengaturan yang sebelumnya bersih dan, karenanya, mungkin telah gagal untuk sampah sehingga untuk menjauhkan diri dari seperti orang yang buruk.


Untuk menghindari interpretasi dari semacam ini, yang didasarkan pada mata pelajaran 'persepsi dari Litterer, itu perlu untuk merancang fokus pergeseran manipulasi yang akan menarik subyek perhatian pada norma keputusan hukum terhadap sampah tapi akan melakukannya tanpa tindakan dari agen mengotori .Untuk tujuan ini, di Studi 5 kita bergantung pada perangkat dari priming kognitif, dimana satu konsep dapat diaktifkan dalam individu dengan fokus perhatian bahwa individu pada suatu konsep terkait (lihat Higgins & Bargh, 1987 , untuk suatu review). Sebagian besar, meskipun tidak semua (lih. Ratcliff & McKoon, 1988 ), penjelasan dari efek priming menggabungkan gagasan dari aktivasi menyebar, yang menyatakan bahwa konsep serupa dihubungkan bersama dalam memori dalam sebuah jaringan dari node dan bahwa aktivasi dari satu hasil konsep dalam menyebar dari aktivasi di sepanjang jaringan untuk konsep terkait lainnya (Anderson, 1976 , 1983 , Collins & Loftus, 1975 ; McClelland & Rumelhart, 1981 ). Sebuah penentu utama dari apakah presentasi dari satu konsep akan menyebabkan aktivasi dari yang lain adalah semantik atau kedekatan konseptual.


Jika, seperti penelitian oleh Harvey dan Enzle (1981) menunjukkan, norma adalah konsep-konsep yang tersimpan dalam suatu jaringan format, kemudianmemfokuskan subyek pada sebuah norma tertentu harus mengaktifkan norma-norma lain yang dianggap semantis dekat dengan itu. Selain itu, semakin besar kedekatan semantik, semakin kuat harus aktivasi yang dihasilkan. Untuk menguji kemungkinan ini, pertama kita memiliki sebuah sejumlah besar dari norma dinilai sebagai kesamaan mereka dengan norma antilittering. Selanjutnya, atas dasar dari mereka peringkat, kami memilih tiga norma yang, meskipun sama dalam nilai normativeness, berbeda dalam kesamaan persepsi mereka (kedekatan konseptual) dengan norma antilittering. Akhirnya, kami termasuk referensi ke salah satu atau lain dari norma-norma di selebaran yang kami ditempatkan pada kaca depan mobil di sebuah tempat parkir perpustakaan setempat. Kita diharapkan bahwa selebaran yang berisi sebuah pesan yang mengingatkan subjek dari norma yang paling jauh dari norma antilittering (voting) akan dikotori relatif sering tapi itu sebagai pesan selebaran disebut norma dinilai lebih dekat (konservasi energi) dan lebih dekat (daur ulang) untuk antilittering yang norma, semakin sedikit pelajaran akan sampah mereka. Kami juga diharapkan handbills tidak mengandung normatif pesan akan dikotori kebanyakan dari semua, sedangkan selebaran yang berisi target, pesan antilittering akan dikotori sedikit.






Metode






Awal Ratings Studi


Sebuah daftar dari 35 norma yang telah dihasilkan oleh para peneliti dan rekan mereka (misalnya, "Mengemudi di sebuah kecepatan yang aman, "" Daur ulang, "" Membayar pajak, "dan" Tidak mengotori ") yang ditampilkan untuk 95 mahasiswa sarjana psikologi selama a sesi kelas di sebuah universitas negeri yang besar.Para siswa diminta untuk menunjukkan sejauh mana mereka menemukan setiap item pada daftar untuk menjadi normatif atau nonnormative pada skala 9-point, berlabuh oleh labelsangat normatif (1) sama sekali tidak normatif (9); titik tengah skala dicap agak normatif (5). Sebuah definisi dari norma-norma disediakan di bagian atas dari daftar yang berbunyi "Norma adalah kepercayaan dalam berbagi suatu budaya untuk apa yang merupakan tepat secara sosial perilaku . "


Sebuah daftar kedua ditunjukkan untuk sebuah kelas yang berbeda dari 87 mahasiswa sarjana psikologi di universitas yang sama pada sebuah pertemuan dari kelas mereka. Selain definisi dari norma-norma di bagian atas dari daftar, daftar ini berisi perbandingan dari masing-masing dari norma-norma yang dipilih dengan norma terhadap sampah sembarangan. Subyek diminta untuk "menunjukkan seberapa erat kaitannya Anda percaya masing-masing dari pasangan dari norma-norma yang "pada skala 9-point berlabuh oleh label identik (1) dan tidak terkait (9); titik tengah skala diberi label agak dekat (5). Contoh dari item perbandingan adalah "Norma terhadap sampah dan norma untuk daur ulang" dan "Norma terhadap sampah dan norma untuk kembali buku perpustakaan pada waktunya."






Seleksi dari norma-norma eksperimental


Sarana untuk kedua jenis dari penilaian dihitung. Norma untuk tidak membuang sampah sembarangan itu dinilai sebagai 4,25 pada skala normativeness 9-point. Kami kemudian terbatas pilihan kita untuk norma-norma eksperimental tambahan untuk mereka yang memiliki sarana untuk kedua subjek laki-laki dan perempuan dalam satu titik skala dari 4,25 pada nilai normativeness. Dari kelompok ini, dan atas dasar dari peringkat skala kesamaan, kami memilih tiga norma untuk menjadi dekat dengan, cukup dekat dengan, dan jauh dari norma terhadap sampah sembarangan.Ketiga norma dan jarak rated mereka dari norma terhadap sampah sembarangan itu, masing-masing, norma untuk daur ulang (3.57), norma untuk mematikan lampu saat terakhir meninggalkan sebuah ruang (5.74), dan norma untuk pemungutan suara (7.12).






Menghasilkan normatif pesan


Untuk masing-masing dari empat norma eksperimental, sebuah pesan dibangun yang cocok untuk presentasi di sebuah selebaran. Untuk norma antilittering (identik dengan norma target), itu membaca, "April adalah Jauhkan Arizona Indah Bulan.Harap Jangan Litter. "Untuk norma daur ulang (dekat dengan norma target), itu membaca," April adalah Preserve Arizona Sumber Daya Alam Bulan. Silakan Recycle. "Untuk mematikan lampu norma (cukup dekat dengan norma target), itu membaca," April adalah Conserve Arizona Energi Bulan. Silahkan Matikan Lampu yang tidak perlu. "Untuk norma suara (jauh dari norma target), itu membaca," April adalah Arizona Pemilih Awareness Month. Harap Ingat Hitungan Suara Anda. "Akhirnya, sebuah pesan kontrol dibangun yang tidak membawa norma ganti, melainkan membaca, "April adalah Bulan Arizona Fine Art itu. Silahkan Kunjungi Museum Seni Lokal Anda. "






Subyek dan Prosedur


Peserta adalah pelanggan 133 perempuan dan 126 laki-laki pelanggan dari cabang perpustakaan umum kota yang memarkir mobil mereka di tempat perpustakaan.Setelah meninggalkan perpustakaan dan kembali ke mobil mereka, subyek ditemukan di sisi pengemudi dari kaca depan sebuah selebaran yang telah ditempatkan di sana oleh eksperimen. Selebaran yang dilakukan salah satu dari lima pesan eksperimental yang dirancang untuk memfokuskan subjek secara diferensial pada norma terhadap sampah sembarangan. Keputusan Drivers 'to sampah selebaran itu direkam oleh seorang pengamat diam-diam ditempatkan. Biasanya, mata pelajaran yang berserakan melakukannya segera setelah membaca pesan selebaran dan hampir selalu dalam waktu 5 s dari memiliki melakukannya. Akibatnya, kami merasa yakin bahwa efek priminglike kita antisipasi dengan baik dalam kisaran dari durasi priming efek yang ditemukan oleh peneliti lain (lihat Higgins & Bargh, 1987 , untuk suatu review). Tidak ada upaya dilakukan untuk mengubah jumlah moderat dari sampah alami dengan alasan perpustakaan dan parkir, yang terdiri dari berbagai dari puntung rokok dan cangkir kertas sesekali atau minuman kaleng ringan.






Hasil dan Diskusi


Dalam tes untuk efek gender dalam data, hanya efek utama adalah signifikan, χ 2 (1, N = 259) = 3,92, p <.05, menunjukkan bahwa laki-laki lebih sering daripada perempuan berserakan (22% vs 14%). Untuk menguji hipotesis kami bahwa sebagai jarak konseptual antara norma antilittering dan pesan selebaran meningkat, tingkat sampah sembarangan akan meningkat commensurately, kami melakukan sebuah analisis trend. Hanya diperkirakan, tren linear (ditampilkan dalam Gambar 6) Terbukti signifikan, χ 2 (1, N = 259) = 5.48, p <.02. Dalam lima pesan eksperimental berarti, hanya satu perbandingan yang signifikan, bahwa antara target, antilittering norma (10%) dan pesan kontrol no-norma (25%), χ 2 (1, N = 118) = 4,87, p < .03.





Perbesar Gambar ini.


Persentase mata pelajaran mengotori pesan selebaran sebagai fungsi dari kedekatannya dengan norma keputusan hukum terhadap sampah: Studi 5


Seperti dalam studi 4, fokus mata pelajaran berbeda-beda pada norma injunctive terhadap sampah sembarangan, kali ini melalui proses dari priming dan aktivasi menyebar, menyebabkan mengotori tarif sesuai dengan tingkat diprediksi dariinjunctive norma fokus . Dengan demikian, seperti yang diharapkan, subyek dalam studi 5 ( a ) penuh setidaknya setelah menghadapi sebuah pesan berfokus mereka secara langsung pada norma antilittering, (b) dikotori semakin lebih sering sebagai ditemui (sama-sama normatif ) pesan diarahkan fokus semakin jauh dari norma antilittering, dan (c) dikotori paling ketika pesan temui adalah tidak normatif .






Diskusi Umum


Kami mulai artikel ini dengan melaporkan dukungan diramu untuk utilitas dari norma-norma sosial dalam akuntansi untuk banyak dari manusia perilaku , klaim bahwa konsep, sebagai tradisional dipahami, memiliki penjelasan yang kuat saat ini memiliki pendukung yang kuat dan lawan sama kuat. Dari perspektif dari penelitian yang kami telah disajikan, akan terlihat bahwa kedua kubu benar. Norma jelas memiliki sebuah dampak yang cukup besar pada perilaku , tetapi kekuatan dan bentuk dari dampak yang hanya dapat berguna dipahami melalui penyempurnaan konseptual yang belum tradisional atau ketat diterapkan. Artinya, untuk memprediksi dengan benar kemungkinan dari aksi-norma konsisten membutuhkan, pertama, yang menentukan jenis dari norma-deskriptif atau ganti-dikatakan beroperasi. Kedua, kita harus memperhitungkan berbagai kondisi yang akan condong individu untuk memfokuskan perhatian pada atau jauh dari norma.


Kami berpendapat bahwa manipulasi eksperimental kami bekerja untuk fokus subyek pada norma-norma deskriptif di Studi 1 sampai 3, pada norma-norma deskriptif dan ganti di Studi 4, dan norma-norma keputusan hukum di Studi 5.Meskipun pola dari hasil penelitian tersebut konsisten dengan argumen itu, pasti ada ruang untuk pandangan alternatif. Sebagai contoh, bisa berpendapat bahwa, untuk mata pelajaran di Studi 1 sampai 3, melihat sampah di lingkungan jika tidak bersih tidak hanya melibatkan norma deskriptif terhadap sampah tetapi terlibat norma injunctive juga. Artinya, satu bagian tunggal dari sampah mungkin telah mengingatkan subyek dari keberatan masyarakat terhadap sampah sembarangan, dan dengan demikian mungkin telah aktivasi dari norma injunctive yang dihasilkan berkurang sampah sembarangan di studi tersebut. Rekening alternatif dari semacam ini untuk segmen tertentu dari data kami, meskipun tidak pelit dalam menjelaskan pola keseluruhan dari hasil, tetap dibayangkan tetap.


Yang begitu sebagian karena pekerjaan kami dilakukan di lapangan terjadi pengaturan di mana itu tidak mungkin untuk menilai ketepatan dan efektivitas alami dari norma-kami fokus manipulasi melalui metode biasanya tersedia bagi peneliti laboratorium. Pemeriksaan rinci pada kekuatan, spesifisitas, dan dampak fungsionaldari attentional subjek fokus tidak mungkin dengan praktis diberikan dalam situasi penelitian kami. Tidak adanya konsekuensi dari tindakan tersebut memungkinkan pertanyaan muncul apakah manipulasi eksperimental kami bekerja seperti yang direncanakan. Tanpa bukti yang menguatkan dari langkah-langkah ini, seseorang dapat memiliki lebih sedikit keyakinan bahwa jenis dari norma yang kita dimaksudkan untuk benar-benar dimediasi temuan kami fungsional. Untungnya, efektivitas dari norma-norma sosial ganti, tentang yang telah ada keraguan dalam komunitas ilmiah ( Darley & Latané, 1970 , Garfinkel, 1967 , Krebs, 1970 ; Krebs & Miller, 1985 ; Marini, 1984 ), memiliki dukungan jelas dalam data kami. Artinya, meskipun tampaknya mungkin untuk menjelaskan pola data kami tanpa bantuan konsep mapan dari norma-norma deskriptif, tampaknya tidak masuk akal untuk melakukannya tanpa bantuan konsep yang lebih disengketakan dan menarik dari norma-norma sosial ganti, terutama dalam Studi 4 dan 5. Meskipun demikian, penelitian masa depan harus dilakukan dengan cara-cara yang memungkinkan penilaian langsung dari proses mediasi dianggap aktif dalam karya ini.


Selama program penelitian ini, kami telah terkena subyek untuk akut kondisi situasional yang dirancang untuk fokus mereka pada atau jauh dari norma-norma tertentu. Kami menyadari, bagaimanapun, bahwa abadi kondisi budaya dan disposisional juga dapat mempengaruhi seseorang fokus normatif . Perbedaan ini antara faktor-faktor budaya, situasional, dan disposisional menyerang kita sebagai penting dalam ranah dari norma-norma. Dalam berpikir tentang konsep, kita telah dituntun untuk berspekulasi bahwa norma-norma berfungsi pada budaya / masyarakat tingkat, tingkat situasional, dan tingkat individu. Meskipun mereka mungkin tidak dikembangkan seperti sebuah konseptualisasi tripartit, teori norma telah mengakui normatif pengaruh pada setiap dari tingkat ini. Pada pertama (budaya / masyarakat) tingkat, pengaruh dari norma-norma global pada perilaku dalam suatu budaya atau kelompok sosial telah sering dicatat ( Birnbaum & Sagarin 1976 , Paicheler 1976 , Pepitone 1976 , Triandis, 1977 , Triandis, Marín, Lisansky, & Betancourt, 1984 ). Memang, banyak definisi dari norma merujuk secara eksklusif untuk tingkat ini. Sebagai contoh, Ross (1973) dianggap norma menjadi "aturan budaya yang menjadi pedoman perilaku dalam suatu masyarakat "(hal. 105).Pada tingkat kedua, yang lain telah mengakui bahwa norma-norma budaya mungkin tidak berlaku untuk semua situasi ( Peterson, 1982 ). Akibatnya, definisi dari norma-norma sering termasuk komponen situasional eksplisit. Sebagai contoh, Popenoe (1983) mendefinisikan norma-norma sosial sebagai harapan " dari bagaimana orang seharusnya bertindak, berpikir, atau merasa dalam situasi tertentu "(hal. 598).Akhirnya, para ilmuwan sosial lainnya memiliki bukti bahwa norma-norma yang ada pada tingkat individu juga. Paling penting dalam hal ini adalah karya inovatif dari Schwartz (1973 , 1977) pada konsep dari norma-norma pribadi.


Pandangan kami adalah bahwa apa yang normatif (misalnya, paling sering dilakukan atau disetujui atau keduanya) dalam suatu masyarakat, dalam suatu pengaturan, dan dalam sebuah orang akan, dalam setiap kasus, memiliki dampak yang dapat ditunjukkan pada tindakan, tetapi dampaknya akan tergantung diferensial apakah aktor difokuskan pada norma-norma dari budaya, situasi, atau diri.Penelitian direncanakan untuk menguji implikasi dari konsepsi ini.





References





1. Anderson, J. R. (1976). Language, memory, and thought. Hillsdale, NJ: Erlbaum.

2. Anderson, J. R. (1983). The architecture of cognition. Cambridge, MA: Harvard University Press.

3. Berkowitz, L., & Berkowitz, L. (1972). Advances in experimental social psychology. San Diego, CA: Academic Press.

4. Berkowitz, L., & Daniels, L. R. (1964). Journal of Abnormal and Social Psychology.

5. Bickman, L. (1972). Journal of Social Psychology.

6. Birnbaum, A., & Sagarin, E. (1976). Norms and human behavior. New York: Praeger.

7. (1988). The California litter problem. Sacramento, CA: Author.

8. Cialdini, R. B. (1988). Influence: Science and practice. Glenview, IL: Scott, Foresman.

9. Collins, A. M., & Loftus, E. F. (1975). Psychological Review.

10. Darley, J. M., Latané, B., Macaulay, J., & Berkowitz, L. (1970). Altruism and helping behavior. San Diego, CA: Academic Press.

11. Deutsch, M., & Gerard, H. B. (1955). Journal of Abnormal and Social Psychology.

12. Feldman, N. S., Higgins, E. T., Karlovac, M., & Ruble, D. N. (1976). Journal of Personality and Social Psychology.

13. Ferguson, T. J., & Wells, G. L. (1980). Journal of Personality and Social Psychology.

14. Finnie, W. C. (1973). Environment and Behavior.

15. Fishbein, M., & Ajzen, I. (1975). Belief, attitude, intention, and behavior. Reading, MA: Addison-Wesley.

16. Fiske, S. T., & Taylor, S. E. (1984). Social cognition. Reading, MA: Addison-Wesley.

17. Garfinkel, H. (1967). Studies in ethnomethodology. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.

18. Geller, E. S., Winett, S., & Everett, P. B. (1982). Preserving the environment. New York: Pergamon Press.

19. Geller, E. S., Witmer, J. F., & Tuso, M. A. (1977). Journal of Applied Psychology.

20. Gruder, C. L., Romer, D., & Korth, B. (1978). Journal of Experimental Social Psychology.

21. Harvey, M. D., & Enzle, M. E. (1981). Journal of Personality and Social Psychology.

22. Heberlein, T. A. (1971). Dissertation Abstracts International.

23. Higgins, E. T., & Bargh, J. E. (1987). Annual Review of Psychology.

24. (1968). Who litters and why. New York: Public Opinion Surveys.

25. Krauss, R. M., Freedman, J. L., & Whitcup, M. (1978). Journal of Experimental Social Psychology.

26. Krebs, D. L. (1970). Psychological Bulletin.

27. Krebs, D. L., Miller, D. T., Lindzey, G., & Aronson, E. (1985). The handbook of social psychology. New York: Random House.

28. Manis, M., Dovalina, I., Avis, N. E., & Cardoze, S. (1980). Journal of Personality and Social Psychology.

29. Marini, M. M. (1984). Social Forces.

30. McClelland, J. L., & Rumelhart, D. E. (1981). Psychological Review.

31. McKirnan, D. J. (1980). European Journal of Social Psychology.

32. Mehan, H., & Wood, H. (1975). Reality of ethnomethodology. New York: Wiley.

33. Milgram, S., Bickman, L., & Berkowitz, O. (1969). Journal of Personality and Social Psychology.

34. Miller, L. E., & Grush, J. E. (1986). Journal of Experimental Social Psychology.

35. Paicheler, G. (1976). European Journal of Social Psychology.

36. Pepitone, A. (1976). Journal of Personality and Social Psychology.

37. Peterson, L. (1982). Merrill Palmer Quarterly.

38. Popenoe, D. (1983). Sociology. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.

39. Ratcliff, R., & McKoon, G. (1988). Psychological Review.

40. Reiter, S. M., & Samuel, W. (1980). Journal of Applied Social Psychology.

41. Ross, H. L. (1973). Perspectives on social order. New York: McGraw-Hill.

42. Ruble, D. N., & Feldman, N. S. (1976). Journal of Personality and Social Psychology.

43. Rutkowski, G. K., Gruder, C. L., & Romer, D. (1983). Journal of Personality and Social Psychology.

44. Shaffer, L. S. (1983). Journal of Mind and Behavior.

45. Schwartz, S. H. (1973). Journal of Experimental Social Psychology.

46. Schwartz, S. H., & Berkowitz, L. (1977). Advances in experimental social psychology. San Diego, CA: Academic Press.

47. Schwartz, S. H., & Fleishman, J. A. (1978). Social Psychology.

48. Sherif, M. (1936). The psychology of social norms. New York: Harper.

49. Sherif, M., & Sherif, C. W. (1969). Social psychology. New York: Harper & Row.

50. Staub, E. (1972). Journal of Social Issues.

51. Triandis, H. C. (1977). Interpersonal behavior. Monterey, CA: Brooks/Cole.

52. Triandis, H. C., Marín, G., Lisansky, J., & Betancourt, H. (1984). Journal of Personality and Social Psychology.

53. Trope, Y., Ginnosar, Z., Bar Tal, D., & Kruglanski, A. (1986). The social psychology of knowledge. New York: Cambridge Press.

54. Venkatesan, M. (1966). Journal of Marketing Research.